Kabupaten Karanganyar di Provinsi Jawa Tengah adalah kawasan yang dulunya masuk dalam Karesidenan Surakarta. Kawasan yang terbentang di area lereng Gunung lawu sebelah barat ini menyimpan begitu banyak potensi wisata. Baik itu wisata alam, agama, sejarah, agro wisata, hingga potensi wisata budaya.
Objek wisata di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah tidak dapat dipisahkan dengan objek wisata Solo. Secara umum hal itu dapat dilihat dalam paket wisata yang ada dalam tiap jasa perusahaan travel misalnya. Paket wisata berkunjung ke objek wisata Solo sering sekali dijadikan satu dengan objek wisata Karanganyar. Hal itu tidak dapat dipungkiri karena pengaruh wilayah yang saling berdekatan dan akses yang sangat mudah dan cepat.
Selain objek wisata alam dan sejarahnya yang sangat terkenal, Grojogan Sewu atau Candi Sukuh dan Candi Cetho, Karanganyar juga terkenal memiliki tradisi berupa upacara adat yang masih lestari hingga saat ini. Hal itu tidak bisa dipungkiri juga karena letak sebagian kawasan yang berada di ketinggian kawasan Gunung Lawu.
Kawasan dataran tinggi seperti pegunungan dan perbukitan sejak jaman dulu dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai kawasan yang suci. Oleh sebab itu, banyak upacara adat di Kabupaten Karanganyar bisa ditemukan di kawasan Tawangmangu yang pada dasarnya berada di dataran yang tinggi dan masih berada dalam kawasan Karanganyar.
Data tentang upacara adat Kabupaten Karanganyar tidak susah untuk ditemukan. Sebagian besar upacara adat di Karanganyar sudah banyak dimuat di blog atau bahkan situs resmi Pemerintah kabupaten Karanganyar sendiri. Dan dalam artikel ini, Chic:Id.Com ingin menyediakan informasi tentang upacara adat Karanganyar yang diurutkan berdasarkan waktu penyelenggaraanya sesuai dengan perhitungan Jawa dari awal tahun hingga akhir tahun.
Berikut adalah susunan upacara adat di Kabupaten Karanganyar secara lebih rinci dari awal bulan Suro hingga akhir bulan Besar, kalender Jawa:
Malam Bulan Purnama Bulan Suro, Upacara Bersih Desa Wahyu Kliyu di Kecamatan Jatipuro
Tradisi selamatan dengan media 300 potong kue apem per-kepala keluarga dan ucapan “Wahyu Kliyu” ini biasa berlangsung pada tengah malam pada malam bulan purnama di bulan Suro. Lokasi penyelenggaraan biasa mengambil tempat di balai desa atau rumah tokoh desa di Dusun Kendal, Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Puncak tradisi selamatan Keraton Kasunanan Surakarta dengan menyembelih kerbau dan menguburkan kepala serta keempat kakinya ini rutin digelar di Alas Krendhawahana di Kalijambe, Karanganyar. Kegiatan yang dilangsungkan setelah 40 hari Grebeg Mulud ini diawali dengan mendoakan sesajian di kompleks Keraton Surakarta baru kemudian dibawa dengan iring-iringan mobil menuju lokasi yang berjarak kurang lebih 15 kilometer arah utara Kota Solo.
Tradisi unik menikahkan tanaman tebu lelaki dan perempuan di PG Tasikmadu ini rutin digelar setiap Jum’at Pon pada kisaran waktu di musim panen atau musim giling di bulan April hingga Mei. Prosesi digelar di PG Tasikmadu, Karanganyar.
Setiap Selasa Kliwon Wuku Mondosiyo, Upacara Mondosiyo di Dusun Pancot, Tawangmangu
Tradisi unik yang rutin digelar sekali dalam tujuh bulan ini jatuh pada wuku, siklus waktu yang berlangsung dalam 30 minggu dalam kalender Jawa, Mondosiyo. Ritual berupa lempar tangkap ayam dalam tradisi ini digelar di Balai Pasar Dusun Pancot, Tawangmangu, Karanganyar.
Setiap Jum’at Legi di Bulan Ruwah, Upacara Bersih Desa Dalungan di Desa Macanan, Kebakkramat
Upacara bersih desa Dalungan yang dikenal rutin menghadirkan tarian Tayub menjadi sangat berbeda dari upacara adat di Kabupaten Karanganyar lainnya. Tradisi ini merupakan tradisi dari warga masyarakat Dusun Dalungan, Desa Macanan, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar.
Setiap Selasa Kliwon Wuku Dukut, Upacara Bersih Desa Dukutan di Dusun Nglurah, Tawangmangu
Puncak prosesi bersih desa berupa tawur agung dengan menggunakan nasi jagung ini biasa digelar di atas pepunden desa atau yang lebih dikenal dengan Situs Candi Menggung. Ritual yang melibatkan dua kelompok pemuda dari dusun ini berlangsung di kawasan Dusun Nglurah, Tawangmangu, pada wuku, siklus waktu yang berlangsung dalam 30 minggu dalam kalender Jawa, Dukut.
Setiap Selasa Kliwon Wuku Julung Wangi, Upacara Bersih Desa Julungan di Desa Kalisoro, Tawangmangu
Bersih desa Julungan berupa selamatan di area pepunden desa yang diiringi kirab budaya jatuh pada wuku, siklus waktu yang berlangsung dalam 30 minggu dalam kalender Jawa, Julung Wangi pada hari Selasa Kliwon. Tradisi ini digelar di Desa Kalisoro, Tawangmangu, yang tekenal dengan Bumi Perkemahan Sekipan.
Karanganyar is a name of regency in Central Java, Indonesia, Southeast Asia. The regency is located at the western slope of Lawu Mountain (3.265 m). Its geographical condition supports Karanganyar to have great potencies for tourism industry. Agro tourism, historical tourism, natural tourism, and also cultural tourism of Karanganyar regency are best in the island.
Grojogan Sewu waterfall and Kemuning tea plantation are very popular among local tourists. But, Sukuh temple (910 m) and Cetho temple (1.400 m) are popular among foreigners.
Popular tourism object in Karanganyar is not just its nature or its historical buildings but also its local culture. Tourists are still able to find the local culture which is represented in some traditional ceremonies. Some of these traditions live among its people in the higher ground of Lawu Mountain and kept by the locals there.
The fact that the traditional ceremonies are still exist is that they are supported with the Javanese old thought that mountain or higher ground is a holy or sacred place. That’s why in the slope of Lawu, tourists could find so many temples and worshiping places. This fact will also be the best answer for why people could find so many traditional ceremonies in the area.
Reports about the existing traditional ceremonies in the regency of Karanganyar could be easily to find in the internet. Many blogs load articles that explain about the time and the place of the ceremonies but most of them are in Indonesian. Chic:Id.Com try to accommodate it in this article. The order of the ceremonies will be sorted based on its implementation time by using the Javanese calculation or calendar:
1. At Full Moon Night of Month Suro (first month in the calendar), Wahyu Kliyu Ceremony in Jatipuro
The ceremony is held by the locals at midnight. They bring traditional cake called “apem”, made of rice flour and sugar, and use it as a media to ask God to protect their village from drought and pest, as most of the villagers are farmers.
The ceremony is held by the Sunanate in order to ask protection from God to its palace, people, and country. In the ceremony, a virgin male buffalo will be sacrificed. Its head, legs, and innards will be buried in the forest. This ritual symbolizes the burial or disposal of badness which are represented by buffalo’s head, legs, and innards.
The traditional ceremony is held to mark the start of sugar milling season. Uniquely, the ritual is held by wedding couples of sugar cane which are taken from two different lands, from the sugar mill plantation and from the field of traditional farmers.
4. Every Tuesday of Kliwon at Wuku of Mondosiyo, Mondosiyo Ceremony in Pancot, Tawangmangu
Every Tuesday of Kliwon at wuku Mondosiyo, locals of Pancot village hold a unique ceremony named Mondosiyo. The unique ceremony is held by throwing chickens to the village hall’s roof, while other locals will try to catch it. Those who throw chickens are tied to a promise that they have made. And as the promise is realized they have to pay with chicken in the ceremony.
5. Every Friday of Legi of Month Ruwah, Dalungan Ceremony in Macanan
Locals in Dalungan village at Macanan have a different traditional ceremony to ask God for its protection and prosperity. In the selected day like Friday Legi at month Ruwah (before Islamic Ramadan), locals hold ritual in a sacred place of the village that they believe as the place of their ancestors. They provide offerings and dancer to dance traditional dance called Tayub in that sacred place.
6. Every Tuesday of Kliwon of Wuku Dukut, Dukutan Ceremony in Nlgurah
Cooked corns, usually boiled corns, which have been separated from its cobs, are used as offerings by locals. They hold Dukutan ceremony in the top hill named Menggung. Locals believe that Menggung is the living place of their ancestor soul, that’s why this location is considered to be a sacred place in Nglurah. There will be two groups of young men in the ceremony. They will involve in tawur agung ritual, battle for ritual purification. Both groups will use the cooked corns to attack others. The cooked corn battle is the feast of Dukutan ceremony.
7. Every Tuesday of Kliwon of Wuku Julung Wangi, Julungan Ceremony in Kalisoro
The ceremony of Julungan is almost similar to Dukutan. Both ceremonies are held in a sacred area in the village. Both ceremonies provide offerings for God and ancestors. Both ceremonies also ask God to give protection and prosperity. The different is just in Julungan there will be no corn battle.
Editor: Adi Kusuma FA

[…] Indonesia? Menurut pengalaman-pengalaman sebelumnya, biasanya pihak Apple akan menjual produknya di Indonesia kira-kira 6 bulan setelah resmi dilaunching. Jadi iPhone SE akan dijual secara resmi di Indonesia […]