Terletak di antara perbukitan kapur di Desa Krakitan, Bayat, Kabupaten Klaten, sebuah daerah cekungan luas mampu menampung genangan air hingga 4 juta m³. Daerah itu bernama Rowo Jombor (Rawa). Sempat difungsikan sebagai waduk, pada masa penjajahan Jepang, kini daerah itu berkembang menjadi kawasan wisata unggulan. Sejak tahun 1987 kawasan ini dijadikan sebagai kawasan budidaya ikan air tawar. Selang satu dekade kawasan budidaya ikan itupun menjelma menjadi kawasan wisata alam dan kuliner yang cukup terkenal. Tak hanya di Klaten tetapi juga di kawasan Solo Raya.
Bagi wisatawan lokal yang sudah mengenal kawasan ini pasti akan mengingat satu hal jika mendengar nama obyek wisata Rowo Jombor, pastinya warung apung. Yah, warung apung Rowo Jombor telah menjadi ciri khas lokasi wisata kuliner di kawasan wisata alam berupa danau itu.
Di kawasan wisata kuliner Rowo Jombor, kuliner ikan air tawar, setidaknya terdapat 20-an warung yang berdiri. Seluruh warung di kawasan itu dikonsep mengapung layaknya perahu. Untuk mencapai warung itu sebuah getek bambu digunakan untuk mengangkut pengunjung. Sensasi yang diberikan? Pengunjung dapat menikmati sajian berbagai masakan ikan air tawar di tengah danau. Merasakan goyangan lembut air danau sembari menyantap sajian berupa ikan nila, lele, bawal, atau guramih. Langsung di lokasi mereka dibudidayakan dalam karamba-karamba di sekitar danau.
Selain dikenal luas sebagai kawasan obyek wisata kuliner Klaten, Rowo Jombor Klaten juga dikenal sebagai titik memancing oleh beberapa pemancing. Karena itu tidak mengherankan jika saat mengelilingi danau ini pengunjung akan menemui banyak pemancing menunggui keberuntungan mereka.
Konsep memancing juga disuguhkan oleh pengusaha warung apung di dalam tempat usaha mereka. Sembari menunggu pesanan masak, pengunjung dapat memancing ikan dari tempat duduk mereka. Beberapa lokasi warung bahkan menjanjikan lokasi yang pas untuk menikmati pemandangan alami kawasan wisata yang mulai dirintis pada tahun 1998 itu. Bahkan di beberapa warung apung wahana bermain anak seperti perahu bebek juga disediakan untuk menarik minat pengunjung.
Waktu yang tepat untuk mengunjungi kawasan wisata Rowo Jombor adalah saat awal atau akhir musim penghujan. Karena saat musim kemarau tak jarang volume air turun drastis sehingga beberapa warung tidak lagi mengapung dan sebagian kawasan yang mengering berubah menjadi area persawahan. Dan meskipun hama berupa enceng gondok akan bertambah saat volume air meningkat, namun hal itu tidak mengurangi eksotisme Rowo Jombor dari atas warung apung.
Obyek wisata Rowo Jombor berjarak berjarak relatif dekat dari pusat Kabupaten Klaten, kurang lebih 8 kilometer arah selatan pusat kota kabupaten. Dari pusat kota kawasan wisata alam itu dapat dicapai melalui rute Jalan Kartini lurus ke selatan (pertigaan di sebelah timur Stasiun Klaten). Memakan waktu kurang lebih 30 menit saja. Sementara dari Kota Solo kawasan ini dapat ditempuh kurang lebih dengan 1,5 jam perjalanan.
Untuk masalah harga, sajian makanan di kawasan ini bisa dikatakan cukup murah. Relatif sama dengan harga makanan di kawasan kuliner ikan air tawar lainnya seperti obyek wisata pemancingan Janti, Klaten. Sementara karcis masuk kawasan ini seharga Rp 5 ribu.
Yang harus cukup diingat jika ingin mengunjungi tempat wisata ini adalah bersiaplah bertemu dengan tukang parkir yang “kelewat” ramah. Jangan segan untuk menolak agar anda dapat memilih lokasi yang paling anda inginkan dan anda minati untuk menikmati sajian kuliner ikan air tawar di lokasi yang sebenarnya. Di warung apung di atas permukaan air Rowo Jombor!

Leave a Reply