Judul: The Way Back
Durasi: 133 menit
Tayang: 21 Januari 2011 di Indonesia
Genre: Drama Petualangan
Pemain: Jim Sturgess, Ed Harris, Colin Farrel, dan Saoirse Ronan
Sutradara: Peter Weir
Film ini dengan cerdas memuat kengerian yang dapat dialami oleh seorang manusia karena rasa dingin, lapar, dan haus yang begitu extreme, film ini juga menyajikan keindahan akan kengerian tersebut dalam gambar seperti bibir pecah-pecah, pipi yang terbakar matahari, atau kaki lebam dari para pemerannya.
Dan Kois dari Washington Post ⁽¹⁾
Inilah sebuah film inspiratif yang terilhami dari sebuah kejadian sesungguhnya terjadi di salah satu belahan bumi terdingin, Siberia. Adalah Peter Weir yang menyutradarai film yang juga dibintangi beberapa artis terkenal seperti Jim Sturgess, Ed Harris, Colin Farrel, dan Saoirse Ronan. Film yang resmi release tahun 2010 di luar negeri ini mendapat respon yang cukup bagus dari para penikmat film di situs IMDb. Layak menjadi hiburan karena memang menyajikan gambaran-gambaran penderitaan yang harus dilalui para pencari kebebasan ini selama menyusuri hamparan salju, hutan, padang rumput, pegunungan, serta gurun pasir sepanjang 4000 mil dari Siberia hingga India.
Film The Way Back mengisahkan pelarian dari sekelompok tahanan politik Uni Soviet yang dipenjara di Siberia. Penjara bagi para tahanan ini bukan hanya barak-barak yang dibuat untuk mengurung mereka tetapi juga hutan yang sangat luas yang di kelilingi pegunungan dan juga musim dingin yang extreme. Belum lagi warga lokal yang bersedia menangkap atau memburu mereka yang mencoba melarikan diri karena hadiah untuk tiap kepala pelarian itu. Adalah Janusz yang diperankan oleh Jim Sturgess, seorang warga negara Polandia yang ingin melarikan diri. Janusz memiliki bakat untuk mengetahui tanda-tanda alam tetapi dia membutuhkan lebih dari itu untuk modalnya melarikan diri.
Akhirnya dia mengajak beberapa tahanan lain seperti Mr. Smith yang diperankan oleh Ed Harris, Voss, Tomasz, Kazik, dan Zoran karena mereka memiliki bahan makanan. Selain mereka Janusz juga mengajak seorang tahanan pembunuh bernama Valka yang diperankan oleh Colin Farrell karena dia memiliki pisau. Bersama-sama mereka memulai pelarian dengan melewati cuaca dingin hutan pinus Siberia. Kedinginan dengan bahan makanan tidak mencukupi dan hanya membawa beberapa helai pakaian akhirnya mereka jatuh kelaparan atau mati.
Perjalanan panjang film ini sangat diskriptif dalam menggambarkan bagaimana luasnya penjara yang harus mereka terobos. Dari hutan pinus mereka berjalan ditengah kelaparan hingga Danau Baikal dan melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Mongolia yang bebas. Di tengah perjalanan ini mereka bertemu sosok perempuan muda asal Polandia bernama Irena yang diperankan oleh Saoirse Ronan. Sesampainya mereka di Mongolia mereka menemukan kenyataan bahwa mereka masih berada dalam penjara komunis karena saat mereka sampai di sana, Mongolia sudah tergabung dalam lingkaran komunis Uni Soviet. Dan mereka pun harus kembali berjuang melewati rintangan yang sangat jauh berbeda dari alam di Siberia. Hamparan gurun pasir dengan matahari yang terang membuat mereka berjatuhan satu persatu hingga meninggalkan tiga orang saja pada akhirnya mendaki gunung tertinggi dunia Everest untuk mencapai tanah sekutu yaitu India dan menuju kebebasan mereka.
Tak semua ayang tertinggal dalam film ini mati ditengah jalan seperti sosok Mr. Smith dan Valka yang memilih untuk tinggal di beberapa tempat dan tidak meneruskan perjalanan menuju India. Roger Ebert dari Chicago Sun Time melihat film ini lebih pada sebuah gebyar yang penuh dengan gambaran menarik secara visual karena menyajikan pemandangan-pemandangan mengagumkan di Siberia, Mongolia, atau India ⁽²⁾. Konflik yang terdapat dalam kisah film ini justru tidak terlalu diangkat oleh sang sutradara. Konflik yang paling sering dimunculkan justru hanya konflik batin tokoh Janusz yang sangat ingin pulang menemui istrinya.
Selain itu tokoh wanita muda dalam film ini juga dianggap canggung karena muncul justru seperti adik ditengah satu gerombolan tahanan pria yang sedang melarikan diri. Roger Ebert juga menambahkan bahwa film Peter Weir ini akan jauh lebih menarik jika saja konflik dramatik dan juga tokoh wanita Irena lebih dapat digunakan ⁽³⁾. Kritikan lebih pedas lagi disebutnya bahwa film yang mencoba menunjukan bagaimana orang ingin melakukan keadilan dalam kisah nyata itu justru berdasar dari sebuah kisah fiksi. Hal itu tidak terlepas dari tulisan laris karya Slavomir Rawicz yang untuk pertama kali menceritakan kisah nyata yang kemudian menginspirasi pembuatan film The Way Back ini. Karena dari data yang ditemukan Roger lewat IMDb setelah menggali data BBC menemukan bahwa pada tahun 1942 pemerintah USSR atau Uni Soviet lah yang justru meluncurkan tulisan itu termasuk di dalamnya beberapa tulisan dari Slavomir Rawicz ⁽⁴⁾.


