
Judul: The Great Debaters
Durasi: 126 menit
Release: 25 Desember 2007
Genre: Drama Biografi
Pemain: Denzel Washington, Forest Whitaker, Nate Parker, Jurnee Smollett, Denzel Whitaker, dan Jermaine Williams
Sutradara: Denzel Washington
Sebuah kelompok debat dari kampus Wiley College, Marshall, Texas, yang dibina oleh seorang dosen bernama Melvin B Tolson menjadi sebuah tulisan dalam artikel yang dibuat oleh Tony Scherman pada tahun 1997 ⁽¹⁾. Artikel ini pun menjadi sebuah inspirasi untuk menulis naskah film dan kemudian memproduksinya dengan arahan sutradara yang juga memerankan salah satu tokoh utama film The Great Debaters sendiri yaitu aktor kenamaan Denzel Washington dan diproduseri oleh ratu talkshow, Oprah Winfrey.
Film yang berlatar tahun 1935 ini sangat kuat dibumbui isu keterpurukan ekonomi Amerika apalagi isu tentang rasisme. Terlebih lagi lokasi kampus Wiley di daerah Texas yang memiliki sejarah suram tentang tindak rasisme terhadap warga kulit berwarna. Di tengah-tengah kondisi Amerika saat itu, film ini menyorot pada sebuah kelompok debat di kampus kecil warga Afro-America yang dibentuk oleh seorang dosen bernama Melvin B Tolson yang diperankan oleh Denzel Washington.
Professor Tolson membentuk sebuah kelompok debat untuk pertama kalinya di kampus itu dan menjaring empat mahasiswanya, yaitu Henry Lowe diperankan oleh Nate Parker, Hamilton Burgess diperankan oleh Jermaine Williams, Samantha Booke diperankan oleh Jurnee Smollett, dan James Farmer Jr yang diperankan oleh Denzel Whitaker. Bersama-sama mereka muncul menjadi kuda hitam dalam kompetisi debat yang memang marak pada masa-masa itu. Hingga akhirnya mereka menjadi juara nasional dengan mengalahkan Harvard University dalam cerita film tersebut.
“Inilah film yang menguatkan dan menginspirasi dan juga mengulang kisah luar biasa tentang sebuah tim dan juga pelatihnya.”
Roger Ebert - Chicago Sun Times ⁽²⁾
Puncak cerita mengalahkan tim debat Harvard University hanyalah sebuah gambaran tentang tingginya pencapaian tim ini di era kelam tahun 1930an, karena sebenarnya mereka tak pernah melawan Harvard melainkan University of Southern California. Hal itu seperti apa yang diungkap oleh salah satu penulis cerita, Robert Eisele, “Di waktu itu, banyak hal dipertaruhkan saat sekolah warga kulit hitam bertemu dengan sekolah warga kulit putih dalam lomba debat, apalagi sekolahan dengan kualitas seperti Harvard. Kami menggunakan Harvard untuk menunjukan betapa tingginya pencapaian mereka.” ⁽³⁾
Film ini dianggap sebagai sebuah karya inspiratif seperti layaknya film-film yang bercerita tentang sebuah tim olahraga yang berhasil keluar sebagai kuda hitam dan memenangi sebuah kejuaraan. Penampilan para pemeran dalam film The Great Debaters saat menokohkan karakter-karakternya sangat ekspresif apalagi dengan isu tentang kesetaraan dan penindasan. Ditambah lagi gambaran kengerian rasisme saat itu yang dimunculkan dalam cerita juga menjadi bumbu yang kuat dalam mengisahkan perjuangan anak-anak muda ini. Bukan hanya lawan dalam debat yang harus mereka kalahkan tetapi juga rasa takut yang mengikuti mereka kemana saja karena isu rasisme. Seperti yang banyak digambarkan dalam film ini, para pejuang muda itu harus menghindari massa yang dengan keji menghakimi dengan menggantung atau membakar warga Afro-America atau dikenal dengan istilah lynch.
Kunci inspiratif dalam film ini adalah kata-kata yang dipakai dalam dialognya. Tak hanya dialog-dialog dalam debat yang mereka bawakan menjadi nyawa dalam film ini, tetapi juga dialog-dialog secara keseluruhan dalam film ini sangatlah kuat dan berbobot. Hal ini tak lain dikarenakan sebagian dialog dalam film tersebut menggunakan beberapa kata-kata kutipan dari beberapa penulis terkenal. Salah satunya diambil dari tulisan Augustine of Hippo ⁽⁴⁾, seorang filsuf Latin terkenal, dengan bunyi kutipan, “An unjust law is no law at all” atau “Hukum yang tidak adil bukanlah sebuah hukum” yang beberapa kali dimunculkan dalam dialog film ini.
Leave a Reply