• Home
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Twitter
  • Facebook
  • RSS

CHIC:ID

Nikmati Siklus Hidupmu

  • Wisata
  • Tradisi dan Budaya
  • Agenda Acara Kota Solo
  • Seni dan Pertunjukan
  • Fotografi
  • Musik
Beranda - Tradisi dan Budaya - Teduh Rezeki Warga Dusun Genting Wirun

Teduh Rezeki Warga Dusun Genting Wirun

March 1, 2014 by Wawan Surajah Leave a Comment

Dusun Genting Wirun Sentra Industri Genting Wirun

Ratusan genting setengah jadi yang dijemur dan berjajar rapi di pinggir jalan-jalan kampung di Dusun Mertan dan Godekan, Desa Wirun, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, adalah pemandangan yang bisa ditemui setiap hari. Sebagian besar warga memang berprofesi sebagai pengrajin genting tanah liat. Menggantungkan hidup pada matahari sudah dilakoni selama puluhan tahun. Genting-genting setengah jadi terpaksa dijemur hingga ke tepi jalan karena halaman dan setiap tempat terbuka di pekarangan rumah sudah pasti penuh dengan “jemuran” genting setengah jadi.

Menyusuri jalanan di perkampungan Dusun Mertan dan Godekan layaknya menyusuri lokasi jemuran yang sangat panjang. Hampir seluruh tepi jalan di dalam perkampungan ini dijadikan tempat untuk menjemur genting oleh sebagian besar warga. Genting-genting dijemur dari dalam pekarangan rumah hingga keluar ke tepi jalan kampung. Menyisakan ruas permukaan jalan beraspal saja dan seperti memagari lalu-lalang kendaraan yang melintas.

Sangat sedikit halaman rumah yang ditanami tanaman peneduh. Seakan tidak ada ruang yang tidak dimanfaatkan untuk menjemur genting. Pemandangan khas lainnya di dusun ini adalah tungku pembakaran genting yang berdiri hampir di seluruh rumah warga dua dusun. Di musim kemarau asap putih sisa pembakaran tungku genting akan lebih sering mengepul di kawasan ini.

Kawasan Desa Wirun Sentra Industri Genting Sukoharjo

Kegiatan mencetak genting hampir tidak pernah berhenti dari pagi jam setengah tujuh hingga jam empat sore. Selain waktu istirahat pada tengah hari, hanya hujan yang akan menghentikan aktifitas mencetak genting. “Kalo hujan ya harus lari-lari. Yang ini (genting yang dijemur) yang harus didahulukan biar ga rusak,” ujar Sobirin, 50, seorang pekerja pembuat genting di salah satu tempat usaha pembuatan genting pertama di Dusun Godekan milik Darto Diyono, 72.

Di lokasi sentra industri genting Desa Wirun itu, usaha pembuatan genting tidak pernah berhenti sejak bermula pada pertengahan tahun 1960-an. Terus berkembang dan bertambah. Usaha genting menurut Darto tidak pernah mengalami pasang surut yang berarti. Selalu saja stabil, baik di musim penghujan atau kemarau. “Genting seperti beras. Sudah menjadi kebutuhan pokok dan selalu cari. Karena setiap membangun rumah membutuhkan genting. Padahal rumah semakin lama semakin bertambah,” ujarnya.

Mengikuti Zaman

Genting Mantili Super Sentra Industri Genting Wirun

Salah satu lokasi usaha produksi genting tertua dan terbesar di dusun genting Wirun adalah usaha milik Darto Diyono yang melanjutkan usaha dari orang tuanya. Pagi di awal bulan Februari itu seperti biasanya Darto duduk bersantai di teras tempat usahanya menunggu pekerja dan pemesan yang mungkin datang. Di samping tempat duduknya beberapa deret genting berbagai jenis diletakan layaknya katalog bagi pembeli.

“Ada genting kerpus jenis Spanyol dan bulat, Lepek Palentong, Mantili Super dan kecil, Morando. Terus ada Lisplang. Genting unggulan sini yang Mantili Super,” terang Darto.

Darto yang belajar membuat genting dari orang tuanya mengawali usahanya dengan menggunakan teknik cetak tradisional. Saat itu jenis genting yang dibuat masih berjenis tradisional dengan cekungan atau yang biasa disebut genting sumpring. Namun sejak tahun 1986 dirinya mulai menggunakan mesin pres yang dipesannya dari Tegal.

Mertan Godekan Sentra Industri Genting Wirun-mojolaban

Usaha genting Darto di kawasan Wirun termasuk yang paling inovatif. Selain telah menggunakan mesin pres, Darto termasuk salah satu produsen yang pertama kali menambahkan kaolin sebagai campuran tanah liat untuk bahan pembuatan genting. Menurut Darto cara itu pertama dipakainya pada tahun 2005 setelah seorang kerabat menyarankan pemakaian kaolin yang biasa digunakan untuk membuat keramik.

Dengan tambahan kaolin genting produksinya bersifat anti air dan lebih tahan lama. “Ini (genting Mantili Super) menggunakan kaolin. Warnanya lebih coklat muda daripada merah (tidak menggunakan kaolin). Permukaannya lebih licin dan lebih rapat. Ini lebih disukai pembeli dari Bandung dan Jakarta,” terangnya.

Genting jenis Mantili Super produksi Darto dihargai Rp 2 ribu perbiji. Kebanyakan pemesan produk unggulannya adalah pengembang kompleks perumahan di kawasan eks-Karesidenan Surakarta dan Jogjakarta. “Beberapa tahun ini banyak developer yang pesan. Yang terakhir kemarin ambil 200 ribu (buah genting) Mantili Super,” tambah Darto.

Sentra Industri Genting Wirun Dusun Genting Wirun

Inovasi lain yang dibuat Darto adalah tungku pembakaran dengan ukuran yang jauh lebih besar serta hak paten atas produknya. Hak paten produknya dimaksudkan agar tidak ada produsen nakal yang berani menggunakan merek genting miliknya. “Dulu pernah ada yang niru tapi sudah ga berani. Kalau ada yang berani niru sini berani bawa ke hukum. Produk kami kan sudah didaftarkan (hak patennya),” terang Sutarjo, 50, seorang pekerja lainnya di tempat Darto.

Menyerap Tenaga Kerja

Sentra Industri Genting Wirun Mertan Godekan Mojolaban

Banyaknya lokasi usaha yang memproduksi genting membuat warga Dusun Godekan dan Mertan tidak perlu pusing mencari pekerjaan. Selain membuat usaha produksi sendiri mereka biasanya bekerja pada saudara atau tetangga mereka yang sudah mendirikan usaha. Misalnya saja di tempat Darto. Tempat usahanya mampu mempekerjakan 11 orang pekerja, sebagian warga lokal sebagian lagi warga dari luar daerah. Bahkan pada tahun 1982 Darto pernah mempekerjakan 35 orang pekerja di dua tempat usahanya.

Di tempat usaha Darto masing-masing pekerja mendapatkan upah Rp 50 ribu perhari dan uang makan sebesar Rp 10 ribu. Besaran upah sama bagi tiap pekerja baik yang mencetak genting atau yang mengurusi pembakaran tungku.

Sistem kerja lepas di kawasan industri genting Sukoharjo itu ternyata juga menarik sejumlah bank untuk menjadikan pekerja di kawasan itu sebagai nasabah mereka. Setiap harinya seorang teller keliling mendatangi masing-masing lokasi usaha untuk melayani pekerja yang ingin menyetorkan upah mereka. “Ya ini Mas (menabung) yang bikin saya bisa nguliahin anak-anak saya,” terang Sobirin yang telah bekerja selama 30 tahun di tempat Darto.

Desa Wirun Kawasan Sentra Industri Genting Sukoharjo

Tetapi besarnya peluang kerja di kawasan itu tidak cukup menarik perhatian sebagian besar pemuda dusun. Sebagian besar pekerja di kawasan ini justru berusia di atas 45 tahun. Jumlah pemuda yang bekerja di bidang itu dapat dihitung dengan jari. “Minder anak muda di sini kalau kerja kotor-kotoran kayak gini. Mereka lebih suka kerja di pabrik atau toko Mas. Padahal kalau dihitung-hitung di sini dapat (upah) lebih dari UMK,” ujar Suroto.

Manfaat genting yang pokok bagi kebutuhan papan masyarakat telah mendongkrak ekonomi warga dusun genting di Desa Wirun. Dari memproduksi genting untuk meneduhi orang lain, mereka yang bergulat dalam produksi turut merasakan teduhnya rezeki dari genting. Bahkan teduhnya rezeki di kampung genting itu juga dapat dirasakan instansi atau masyarakat di luar dusun genting Wirun.

Filed Under: Tradisi dan Budaya Tagged With: industri rumah tangga, Kota Solo, wisata sukoharjo

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk Terbaik

New Arrival

Kategori

  • Agenda Kota Solo
  • Fashion
  • Film
  • Fotografi
  • Komunikasi
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Model Rumah
  • Musik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Seni dan Pertunjukan
  • Teknologi
  • Tradisi dan Budaya
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Wisata Boyolali
  • Wisata Karanganyar
  • Wisata Klaten
  • Wisata Solo
  • Wisata Sragen
  • Wisata Sukoharjo
  • Wisata Wonogiri

Komunitas Chic:ID

Copyright © 2016 · Magazine Pro Theme on Genesis Framework · WordPress · Log in