Lir - Ilir adalah salah satu kegiatan rutin yang digelar Padepokan Lemah Putih tiap dua bulan sekali setiap malam bulan purnama. Kegiatan yang terbuka bagi seniman untuk menampilkan karyanya sebelum dibawa ke panggung yang lebih besar ini akhirnya kembali digelar setelah sekian lama vakum.
Pendopo Padepokan Lemah Putih kembali hangat semalam (26/01/2013) dengan hadirnya Teater Ruang mempresentasikan tiga konsep karya berupa musik, puisi, dan teater. Kehadiran Teater Ruang semalam seperti membuka kembali gelaran Lir - Ilir Padepokan Lemah Putih yang telah vakum selama hampir tiga tahun.
Di hadapan pengunjung yang hadir semalam, Teater Ruang tidak tampil sendiri. Bersama Komunitas Tanggul Budaya, mereka ternyata berniat mengusung Gerilya Budaya (kegiatan seni rutin Komunitas Tanggul Budaya yang dipentaskan di berbagai lokasi) ke hadapan pengunjung.
Dalam kesempatan itu mereka mempresentasikan karya musik komposisi lagu Lir - Ilir dan Unison, dua geguritan dan satu puisi, kemudian pertunjukan teater berjudul “GOK: Tanpa Tema”.
Untuk karya musik, Teater Ruang dan Komunitas Tanggul Budaya mengajak tiga anak usia sekolah dasar untuk ikut tampil. Saat mereka kembali tampil membawakan geguritan dan puisi, mereka tidak hanya berkata-kata tetapi juga mengeksplorasi gerak dan ekspresi. Sedang untuk resentasi karya terakhir berjudul “GOK: Tanpa Tema”, Teater Ruang mencoba mengeksplorasi tubuh tanpa menggunakan dialog dan dibawakan oleh tiga orang penyaji.
Penampilan anak-anak semalam ternyata menarik perhatian pengunjung yang hadir. Keikut-sertaan mereka menjadi salah satu hal yang didiskusikan dalam sesi tanya jawab seusai pertunjukan.
Diakui oleh Helmy Prasetyo, salah satu instruktur Teater Ruang, bahwa Teater Ruang mengajarkan pada anak-anak yang ikut berlatih di studio mereka untuk belajar berani dan tampil di depan umum. Tanpa mengesampingkan, menyoal apa yang mereka bawakan, ada yang lebih penting untuk dipelajari di usia mereka saat ini. Salah satunya adalah mengasah mental untuk tampil.
Selain itu, dijelaskan pula bahwa anak-anak ini juga mendapatkan banyak hal selain berekspresi lewat puisi. Mereka juga diajarkan seni karawitan, bernyanyi, menari, bermain teater, dan lainnya.
Selaras dengan itu, salah satu tujuan Lir - Ilir Padepokan Lemah Putih adalah untuk mendukung proses kreatif seniman yang bersifat inovatif dan profesional berkesenian dengan prasarana sederhana. Setelah Teater Ruang dan Komunitas Tanggul Budaya, tentu ditunggu keikutsertaan kelompok atau seniman lainnya untuk tampil di Lir - Ilir yang akan datang.
Lir – Ilir is a bimonthly arts program of Padepokan Lemah Putih (arts institution). The bimonthly program is Javanese traditional based program which is scheduled every full moon night and take place at one of the institution’s pendapa.
Lir – Ilir Padepokan Lemah Putih aimed to open opportunities for artists either local or regional, from any disciplines, to present their newest piece in a small scale before it will be presented in a large scale like theaters. The program also opens a discussion session after the presentation so that the artists will get a different perspective from the audiences.
It was in January 26th, 2013, when Padepokan Lemah Putih reopened their program since it stopped for three years. Teater Ruang from Solo became the lucky arts group to reopen the program of Lir - Ilir Padepokan Lemah Putih. The arts group presented three pieces consisting of music compositions, poetry, and arts performance.
For the first piece, by sounding gamelan, the group presented “Lir-Ilir” and “Unison” compositions. The second piece was poetry reading. There were two geguritan or Javanese poetries and an Indonesian poetry. Those poetries were brought by three elementary school students. Not only reading the poetry they also presented arts performance which described the story conveyed in the poetry.
The last piece is the arts performance entitled “GOK: Tanpa Tema” (GOK: Without Theme). With “GOK: Without Theme”, Teater Ruang tried to create arts by exploring human body. Three performers presented the last piece and they did not use any dialog, just body flexibility and strength.



Leave a Reply