Kawasan lereng Gunung Lawu memang menjadi kawasan tujuan wisata yang cocok bagi mereka yang mencari objek wisata sejarah seperti situs candi. Peninggalan-peninggalan tersebud dipercaya sebagai warisan terakhir Majapahit sebelum akhirnya tergeser oleh kekuasaan kerajaan Islam. Beberapa yang sangat dikenal adalah Candi Cetho dan Candi Sukuh di lereng barat laut Gunung Lawu yang dikenal karena memiliki arca dan relief yang “eksotis”.
Ternyata peninggalan kebudayaan Hindu di lereng Gunung Lawu tidak hanya bisa ditemukan di lokasi itu saja. Bergeser sedikit ke arah selatan, tepatnya di barat daya lereng Gunung Lawu ternyata juga dapat ditemui sebuah situs candi untuk Dewa Siwa. Namun, warga sekitar lebih mengenal lokasi itu sebagai pepunden atau tempat bersemayamnya leluhur desa setempat yaitu punden Eyang Menggung di Dusun Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.
Dusun Nglurah di Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, adalah kawasan yang dikenal sebagai lokasi agro-wisata tanaman hias dan obat. Lokasinya yang masih dikelilingi oleh bukit dan hutan juga dikenal sebagai jalur hiking bagi wisatawan yang mencari pemandangan alam pegunungan.
Dari dalam kawasan agro-wisata ini, tepatnya di pinggir dusun sebelah barat, ternyata tersimpan sebuah situs bersejarah kebudayaan Hindu. Bahkan hingga saat ini lokasi Candi Menggung masih dipergunakan sebagai lokasi ziarah oleh umat beragama Hindu.
Situs Menggung di dusun ini terletak di pinggir dusun dan berdampingan dengan kebun-kebun tanaman hias milik warga. Sebuah gedung serba guna yang berdiri di depan situs ini menandakan bagaimana masyarakat sekitar sangat menjaga keberadaan situs yang mereka percaya juga sebagai petilasan Airlangga.
Jika ingin membandingkan bentuk situs Candi Menggung, Candi Kethek yang berada di dekat Candi Cetho mungkin adalah pembanding terdekat situs ini. Bentuk kedua situs itu sama-sama lebih menyerupai sebuah bukit ketimbang sebuah bangunan. Dan lokasi utama di situs ini terdapat di atas bukit yang tidak lebih tinggi dari 6 - 8 meter dengan banyak pohon rindang tumbuh di atasnya.
Terdapat dua akses masuk menuju lokasi utama di atas bukit. Pintu masuk sebelah barat (di samping depan gedung serba guna) dengan arca dwarapala yang aus adalah pintu masuk utama. Sedangkan pintu masuk lainnya berada di sebelah selatan bukit (di belakang gedung serba guna).
Setelah menaiki anak tangga pintu masuk utama kita akan disuguhi pemandangan yang mirip dengan pemandangan di Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Candi Kethek. Pemandangan itu adalah struktur punden berundak yang dapat dikenali dari halaman bertingkat yang dimiliki situs Candi Menggung.
Di teras pertama dari tangga pintu masuk kita akan menjumpai halaman luas yang terbagi dalam halaman-halaman berbentuk bidang yang dihiasi oleh tanaman hias dan juga tatanan bebatuan. Teduhnya kawasan ini membuat tanah dan bebatuan di seluruh kawasan nyaris tertutupi oleh lumut. Jalan setapak menuju teras yang lebih tinggi berada tepat di tengah-tengah, membelah bidang-bidang halaman tadi dalam dua bagian kanan dan kiri.
Di teras yang lebih tinggi terdapat bangunan utama tanpa atap. Pagar persegi dengan dua gapura pintu masuk yang tak lebih tinggi dari satu meter lebih mengurung dua arca yang tampak paling terawat di situs ini. Warga sekitar mengenali dua arca ini sebagai arca leluhur mereka yaitu Eyang Menggung atau Kyai Menggung yang juga dikenal sebagai Naratoma, pengikut Airlangga yang mengasingkan diri, dan arca Nyai Roso Putih, istri Eyang Menggung.
Sementara sesepuh desa mengatakan bahwa salah satu arca, arca yang lebih tinggi, adalah arca dari Batara Guru atau Dewa Siwa. Hal itu dapat dikenali dari wujud wahana dari arca yaitu lembu atau sapi. Selain keberadaan arca Dewa Siwa dan bentuk bangunan berteras, peninggalan yang memperkuat dugaan bahwa area ini adalah area peninggalan budaya Hindu adalah yoni yang dapat ditemukan di atas bangunan utama.
Seluruh pohon yang berada di area ini dihiasi dengan kain poleng khas Hindu Bali. Suasana teduh dan asri adalah hal positif yang dapat dirasakan setiap pengunjung saat menapakan kaki di situs Candi Menggung.
Memperkuat keberadaan situs ini sebagai pepunden bagi warga setempat, sebuah ritual adat bersih desa rutin digelar setiap Selasa Kliwon di wuku Dukut di sini. Tradisi yang dikenal dengan nama Tawur Dukutan atau Dukutan itu digelar tepat pada hari yang dipercaya sebagai hari bersatunya dua leluhur dusun yaitu Kyai Menggung atau Naratoma dan Nyi Roso Putih.
Untuk menemukan lokasi ini tidaklah sulit. Kawasan agro-wisata tanaman hias Nglurah berada tidak jauh dari terminal bus atau Pasar Tawangmangu. Beberapa ratus meter dari terminal bus dan Pasar Tawangmangu (menuju atas) dapat dijumpai disebelah kanan jalan PSPA Kartini. Tepat di sebalah bangunan PSPA Kartini terdapat gapura bertuliskan “Agro Wisata Tanaman Hias Dusun Nglurah”.
Dari gapura ini jarak situs masih sekitar 1 - 2 kilometer. Terdapat jalan naik turun menuju perkampungan Dusun Nglurah, sehingga mencapainya dengan berjalan kaki akan lumayan melelahkan.
Waktu terbaik untuk mengunjungi situs Candi Menggung di kawasan agro-wisata tanaman hias Tawangmangu tentu saja saat berlangsungnya ritual adat Tawur Dukutan. Dengan datang bersamaan dengan digelarnya tradisi bersih desa ini, anda dapat mendapatkan pengalaman tak terlupakan mengunjungi objek wisata Tawangmangu.
Tetapi untuk dapat melihat prosesi ritual ini anda wajib datang di pagi hari karena waktu penyelenggaraannya adalah sebelum jam 8 pagi di hari Selasa Kliwon pada wuku Dukut!






Leave a Reply