Siluet adalah sebuah bentuk padat sebuah objek yang merepresentasikan orang atau hal lainnya dengan warna hitam. Siluet dapat dimanfaatkan dan dibuat dalam berbagai media artistik visual seperti artistik design, fotografi, dan bahkan diterapkan dalam pertunjukan teater. Siluet dalam pentas teater dihasilkan dari efek pemanfaatan pencahayaan. Pencahayaan sendiri merupakan salah satu bagian terpenting dalam teater karena cahaya menghadirkan ruang.
Setiap adegan memerlukan teknik pencahayaan yang berbeda untuk menyampaikan perasaan atau suasana. Aktor memainkan perannya untuk menyampaikan suasana hati pada penonton, namun saat gerak dan kata tidak lagi mampu menyampaikan pesan yang lebih dalam, pencahayaan dapat mengambil peran itu dari sang aktor.
Siluet adalah salah satu efek yang dapat dihasilkan melalui proses pencahayaan. Siluet terjadi akibat adanya objek yang menghalangi pantulan objek utama. Efek pencahayaan ini berlaku dalam banyak terapan. Fotografi adalah salah satu ragam seni yang sangat dekat dengan istilah siluet. Dalam fotografi biasanya siluet digunakan untuk menghilangkan detil yang ada pada suatu objek untuk memunculkan suasana atau rasa misterius.
Untuk membuat siluet, haruslah ada cahaya yang berasal dari belakang objek. Memainkan siluet dalam teater dilakukan dengan cara menjatuhkan bayangan objek yang menghalangi cahaya pada objek lain. Teknik ini dapat dilakukan dengan menjatuhkan bayangan dari samping atau depan sehingga searah dengan mata penonton atau dapat juga dilakukan pada arah sebaliknya. Pada arah sebaliknya, teknik yang dipakai sama dengan teknik pada pertunjukan wayang kulit. Dimana siluet yang dihasilkan dengan teknik ini dapat lebih terlihat oleh mata.
Siluet dalam pertunjukan teater dipandang dapat membantu membuat kedalaman di atas panggung. Kedalaman yang dimaksud adalah kedalaman rasa akan cerita. Akan tetapi beberapa hal harus diperhatikan saat kita membuat efek ini, karena kesalahan dalam eksekusi akan menciptakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Posisi lampu yang digunakan haruslah dalam posisi yang tepat jika siluet akan dimunculkan secara langsung kehadapan penonton (biasanya dari balik layar menghadap pada penonton). Karena jika tidak, cahaya lampu dengan posisi frontal ke mata penonton justru tidak akan menciptakan efek siluet tetapi menyilaukan mata mereka yang menghadap ke arah siluet.
Beberapa macam alat dapat digunakan untuk membentuk siluet. Dari mulai cahaya terang seperti lampu atau cahaya redup seperti lilin atau api dan lain sejenisnya. Lampu siluet bisa juga dimainkan dengan paduan warna untuk memunculkan rasa suasana. Penggunakan api seperti pada lilin juga dapat memunculkan suasana tersendiri saat digunakan dalam membuat siluet. Hal ini muncul karena cahaya yang dihasilkan api tidaklah tenang seperti lampu. Api pada lilin dapat bergerak-gerak karena hembusan angin atau dapat terang redup tanpa harus kita atur.
Efek siluet dapat membantu menyederhanakan adegan. Adegan yang tampak susah digambarkan dapat dibawakan dengan lebih simple atau ringkas tanpa mengurangi rasa pada sebuah pementasan. Sebagai contoh, siluet pertarungan dapat mengurangi properti yang harus dibawakan jika ditampilkan apa adanya secara langsung di hadapan penonton. Siluet juga dapat digunakan untuk menghadirkan kejadian di masa lalu atau flashback atas sesuatu yang sudah terjadi pada suatu lokasi tanpa harus mengubah properti yang ada. Atau siluet dapat digunakan untuk menghadirkan bentuk sosok yang mudah dikenali karena jika diperlihatkan secara tiga dimensi maka akan memakan lebih banyak detil dengan taruhan sosok terkenal tersebud justru tidaklah mirip seperti yang diinginkan.
Yang paling mengena dari efek siluet adalah kesan misterius yang dihadirkan. Siluet membentuk garis sederhana atas perwujudan seseorang atau elemen lain dengan detil yang hilang karena berbentuk objek gelap dan padat. Namun garis sederhana pada objek padat itu mampu memberikan sejuta rasa dan makna yang ditangkap oleh masing-masing orang yang melihatnya. Penggunakan efek cahaya ini juga mampu menyeret penonton kepada imajinasi mereka masing-masing. Objek gambar gelap sederhana yang tergambar dalam efek ini dapat diartikan sendiri oleh masing-masing dari mereka yang menyaksikan dan menyeretnya ke dalam pengembangan personal dalam benak masing-masing penonton.
Tetapi terkadang untuk menghadirkan sejuta rasa, efek pencahayaan akan lebih muncul lagi dengan bantuan elemen lain seperti kolaborasi artistik. Seperti apa yang sudah dihadirkan oleh teater Epik, Istitut Teknologi Bandung, misalnya. Mereka menggabungkan tata panggung dan visualisasi dengan sedikit tambahan efek bunyi dalam beberapa adegan pementasan naskah “Mendiang Republik” yang mereka pentaskan pada bulan Mei 2012. Mereka memunculkan siluet Garuda yang memenuhi isi panggung dengan diiringi suara denyut jantung serta cahaya visual alat pencatat denyut jantung yang memantul pada ruas-ruas bambu. Atau saat adegan empat tokoh muncul ke atas panggung yang kemudian berdiri di belakang empat bingkai kosong dan berdialog, sementara dari belakang, cahaya ditembakan pada empat sosok itu untuk membentuk siluet wajah bergerak dalam bingkai-bingkai tadi. Sosok-sosok tadi adalah Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka.
Salah satu pertunjukan besar di panggung teater Indonesia yang menggunakan efek siluet adalah pertunjukan drama musikal “Laskar Pelangi”. Dalam drama musikal yang juga pernah ditampilkan di Teater Jakarta ini mereka membuat salah satu adegan dalam cerita dengan menmanfaatkan properti seperti penggunaan lilin dan kain putih sebagai layar. Semua itu digunakan untuk menggambarkan adegan pertarungan Lintang dengan buaya.


Leave a Reply