Srawung Seni Candi Sukuh kembali digelar oleh Padepokan Lemah Putih di kawasan Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar. Padepokan Lemah Putih adalah salah satu kelompok kesenian yang aktif mengadakan kegiatan seni budaya di kawasan Solo dan sekitarnya dan kali ini mereka kembali menggelar Srawung Seni Candi untuk kali yang kesembilan kalinya.
Pergelaran dibuka pada tanggal 31 Desember 2012 dan 1 Januari 2013 dengan puluhan seniman dari berbagai daerah ikut serta dalam kegiatan ini. Mereka yang hadir tidak hanya berasal dari Kota Solo atau Indonesia saja tetapi juga dari luar negeri. Dari Kota Solo nama-nama seperti Eko Supriyanto atau Mbah Prapto tentu sudah banyak dikenal dan dalam penampilan hari pertama kemarin (31/12/2012) mereka tampil dalam sebuah kolaborasi.
Untuk penyaji dari luar negeri ada Algimiro Cesarino dari Venezuela dan Estefania Pifano dari Venezuela yang juga berkolaborasi dengan musisi lokal Indonesia, Misbach dari Makassar, membawakan karya berjudul “Benih Angin” yang juga menutup pergelaran hari pertama. Selain mereka ada juga nama-nama penyaji dari negara tetangga seperti Norisham Osman dan Chan Sze-Wei dari Singapura. Tak hanya seniman yang tampil secara individual atau berkolaborasi yang tampil dalam Srawung Seni Candi Sukuh. Beberapa di antara penyaji adalah kelompok seni seperti Dapur Seni dari Jepara, Lesung Tawangsari dari Solo, atau Ketoprak Ngampung dari Solo.
Srawung Seni Candi Sukuh yang digelar rutin tiap pergantian tahun ini merupakan kegiatan yang berupaya mengangkat inspirasi dari Candi Sukuh, lingkungan alam, serta budaya masyarakat di kawasan yang terletak di kaki Gunung Lawu ini. Usaha yang dilakukan oleh mereka yang tergabung dalam kegiatan rutin ini diharapkan mampu menyumbangkan kekuatan daya tumbuh bagi kesenian dan kebudayaan Indonesia.
Once again, Padepokan Lemah Putih, initiated by Suprapto Suryodarmo, held its annual art and cultural event from December 31st, 2012 to January 1st, 2013 at Candi Sukuh Temple, Ngargoyoso, Karanganyar.
This event is called Srawung Seni Candi and it’s become the ninth meeting. Dozens of artists and art groups participated in this event. Most of the performers came from local area like Solo or Jogjakarta but some of them came from other countries like Venezuela, Singapore, America, Poland, and Germany.
Collectively, all of these performers earned effort to raise inspiration taken from Sukuh Temple, its environment, and culture of the people who live around it. Sukuh Temple known as a distinctive temple located in the slope of Lawu Mountain. Its distinction could be seen clearly from its thematic reliefs that tell the story of sex education and fertility. Therefore, by the end of the performance some seedlings were freely distributed to the audiences.
Some of the well known artists who performed on Monday, January 1st were Eko Supriyatno and Suprapto Suryodarmo who performed in collaboration. There was also the local and foreign artists’ collaboration. Algimiro Cesarino (musician) and Estefania Pifano (dancer) from Venezuela collaborated with Misbach (musician) from Makassar performing a work entitled “Benih Angin” (Wind Seed).
Totally there were 27 performers who performed individually or in group. Some art groups which participated in this festival are Dapur Seni from Jepara, Lesung Tawangsari from Solo, and Ketoprak Ngampung from Solo. All of the performances were started from 9 a.m. and ended around 4 p.m.
Held firstly in 2003, Srawung Seni Candi Sukuh becomes annual art and cultural event that accommodate different kinds of theme. While this year celebration, it is expected that Srawung Seni Candi Sukuh could contribute energy toward the growth of Indonesian’s art and culture.
Editor: Adi Kusuma FA

