Bagaimana jika dalam pementasan sebuah teater segala sesuatu yang digunakan untuk penyajian artistik menggunakan bambu dan juga hasil alam lainnya? Ditambah lagi pemakaian hasil alam itu digunakan untuk membuat objek atau properti yang begitu tradisional dan dengan mudah dipahami oleh mata penontonnya.
Hal ini dapat dilihat dalam pentas Tanah #2 Alam Inspirasi Kita semalam (18/11/2012) di Pendopo Agung, Taman Budaya Jawa Tengah. Tim artistik dalam pentas ini menyajikan berbagai rupa properti pementasan yang terbuat dari bambu. Ada rumah-rumahan yang terbuat dari bambu dengan ukuran tinggi tak lebih dari bahu para pemainnya. Di atas panggung tersaji rumah tradisional Jawa, masjid, dan bangunan mirip warung.
Rumah-rumahan ini tertata rapi ditengah panggung. Jarak tiap rumah dibuat agar para pemain dapat berlalu-lalang di antaranya, persis seperti gang-gang kampung. Kampung tradisional mini ini juga lengkap dengan tiang-tiang listrik yang terbuat dari bambu, tersebar di tiap pojok kampung. Bahkan tampak simbol matahari dan bulan sebagai penanda waktu di panggung semalam. Properti ini juga terbuat dari bambu dilengkapi dengan lampu yang terbungkus kertas warna mirip seperti lampion, dimainkan masing-masing oleh satu orang, simbol-simbol ini secara bergantian menghiasi latar belakang pementasan.
Pertunjukan Tanah untuk pertama kalinya dipentaskan pada 2010 dengan melibatkan warga kota Bandung Utara. Pada pementasan yang kedua kalinya ini, Program Teater Pemberdayaan melibatkan 25 warga Dukuh Sumber, Magelang, yang tergabung dalam Sanggar Bangun Budaya untuk kembali mementaskan isu-isu yang menyangkut masalah penggunaan tanah di Indonesia. Sinopsis yang diberikan dalam katalog pementasan Tanah #2 berbunyi, “Tanah #2 Alam Inspirasi Kita adalah sebuah upaya artistik untuk menafsirkan masa depan lingkungan dan penggunaan tanah di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan manusia sebagai penghuni tanah tersebut.”
Tafsir ini diangkat melalui cara unik dalam pementasan semalam, dimana mereka menampilkan berbagai kegiatan sehari-hari yang ada di dusun mereka. Kegiatan seperti ronda, rapat warga, menanam padi, membajak sawah, menunaikan ibadah di masjid, hingga mengadakan syukuran mereka bawakan kehadapan penonton yang hadir. Dalam cerita keseharian ini diselipkanlah cerita sederhana yang mengisahkan hilangnya sumber air di area perkampungan warga. Hilangnya sumber air dan pasokan air diakibatkan oleh eksploitasi alam yang salah dan tidak diperhitungkan dengan benar. Pengerahan alat berat untuk mengeksploitasi tanah dirasakan oleh mereka menjadi faktor utama kerusakan yang akan terjadi pada lingkungan.
Kreatifitas lain juga coba dihadirkan oleh para penampil dalam pementasan semalam. Mereka mengeksplorasi bentuk dengan memanfaatkan perabot yang terbuat dari bambu. Mereka meniru objek seperti kerbau yang digunakan untuk membajak sawah serta bulldozer dengan membuat formasi yang dihias dengan perkakas dapur seperti tampah bambu atau tempat nasi dari anyaman bambu. Selain eksplorasi yang mereka pertunjukan, mereka juga menghadirkan kesenian rakyat Dayak Grasak yang merupakan karya kelompok seni yang terletak di kaki Gunung Merapi ini.
Pementasan Tanah #2 Alam Inspirasi Kita adalah pentas yang dipersembahkan oleh Yayasan Kelola dengan dukungan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Melalui Program Teater Pemberdayaan mereka mencoba mengangkat problematika sosial ke dalam sebuah pertunjukan yang diharapkan mampu mengubah semua pihak yang terlibat sebagai agen perubahan. Dalam pentas Tanah #2 yang sebelumnya juga dipentaskan di Magelang dan Jogja, program ini merangkul Sanggar Bangun Budaya Magelang, lima seniman Jogja (Andika Ananda, Andreas Ari Dwianto, Dina Triastuti, Gintani Nur Apresia Swastika, dan Yudha Sandy), serta direktur artistik PeerGou P Belanda, Sjoerd Wagenaar.



Tengkyu Wawan. Artikel Anda bagus.
terima kasih kembali Egbert.