Pentas Promosi Teater Tesa Pilih Naskah Kekerasan Politik

Dua orang pemeran Bapak dan Ibu berdialog di atas sofa ruang keluarga mereka. Mereka berdua adalah orang tua dari seorang anak bernama Satria, seorang aktivis mahasiswa yang hilang diculik dan tak pernah lagi terdengar kabarnya. Kedua tokoh ini merupakan tokoh dalam naskah karya Seno Gumira Ajidarma yang ditampilkan dalam sebuah pentas promosi. Pementasan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? karya Seno Gumira Ajidarma semalam (20/12/2012) merupakan pentas promosi yang digelar oleh Teater Tesa FSSR UNS.

Pentas promosi kali ini tidak hanya akan digelar sekali tetapi juga akan digelar kembali malam nanti mulai pukul 19.30 di Sanggar Teater Tesa FSSR UNS. Selama dua hari, tertanggal 20-21 Desember 2012 penonton dapat menikmati penggarapan naskah oleh Teater Tesa di atas panggung sederhana sanggar teater yang didirikan di antara pepohonan di belakang salah satu gedung perkuliahan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.

Panggung kecil teater ini dihias dengan sederhana layaknya ruang keluarga dengan sebuah sofa serta meja disebelahnya. Di belakang sofa terdapat gorden yang menutup sebuah jendela dimana dibelakangnya bersembunyi para pemusik dan penyanyi pengiring dan sutradara pentas promosi kali ini adalah I Dhamardi N. Lokasi pementasan yang sempit membuat penonton yang hadir berdiri berhimpitan bahkan hingga meluber ke luar. Namun pengunjung tetap kidmat menikmati sajian 75 menit pementasan naskah yang mengisahkan kekerasan politik yang pernah terjadi di Indonesia.

Kedua tokoh yang beradu peran malam tadi adalah seorang bapak dengan istrinya. Putra sulung mereka yang bernama Satria sudah lama tidak pulang dan diyakini hilang diculik. Bapak mengenakan sarung dan kaos oblong sementara Ibu mengenakan daster dengan kerudung putih.

Obrolan mereka tidak lebih mengenai tentang hilangnya anak mereka dan bagaimana mereka melontarkan kegelisahan mereka akan nasib anak mereka. Pembicaraan mereka juga menyentuh ke dalam penggambaran kondisi mereka berdua selama Satria menghilang. Lebih dari itu, adegan-adegan dalam pentas ini juga menyuguhkan pemandangan berbeda tentang bagaimana penculikan-penculikan itu dilakukan dan direncanakan oleh orang-orang militer.

Kedua suguhan adegan tersebut diperankan oleh karakter Bapak dan Ibu. Dalam kehidupan keluarga mereka berbincang seperti pada umumnya, marah, sedih, mengutuk, atau bercerita seperti adanya. Namun saat beberapa adegan menyuguhkan kekerasan yang dilakukan militer kedua tokoh ini menyuguhkan monolog atau dialog dengan ekspresi dan gerak tubuh yang tidak wajar. Selain itu, kedua adegan yang terdapat dalam pementasan ini juga dipisahkan dengan warna lampu yang berbeda, netral/kuning saat dalam keluarga dan muram/merah dan hijau saat dalam beradegan kekerasan.

Sajian yang dapat dengan mudah dirasakan dalam pertunjukan drama promosi ini adalah kekuatan dari kalimat-kalimat kritis dalam dialog kedua orang tua ini, seperti.

“Apa orang-orang itu tidak punya seorang ibu yang setidak-tidaknya pernah memperkenalkan kasih sayang, kelembutan cinta.”

“Cara Melawan Teror. Perlu dibaca oleh mahasiswa, aktifis, wartawan, penasehat hukum dan berbagai profesi yang rawan teror.”

“Orang-orang itu menghabisinya seperti menghabisi seekor musang. Orang itu digorok seperti binatang. Ibu menutupi mataku. Tapi aku tidak bisa melupakan sinar matanya yang ketakutan. Aku masih ingat sinar mata orang-orang yang mengayunkan linggisnya dengan hati riang. Kok bisa?”

“Politik itu apa sih, kok pakai menyembelih orang segala?”

“Penduduk pinggir kali, kere-kere itu, menunggu mayat-mayat yang lewat. Mereka menggaet mayat-mayat dengan bambu yang diberi pengait ujungnya. Mereka geret mayat-mayat itu ketepian, lantas mereka jarah.”

Bagi anda yang tertarik menyaksikan pentas promosi Teater Tesa FSSR UNS dengan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? pementasan hari kedua akan digelar malam ini dari jam 7.30 hingga selesai di Sanggar Teater Tesa FSSR UNS.

Sponsored Links

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Speak Your Mind

*

Tweet