Penjaga Panahan Tradisional Dari Kampung Dawung Wetan Solo

Sumarno Handoyo Wiratno Pembuat Panah Tradisional Solo

Pertama kali berkenalan dengan Sumarno Handoyo Wiratno (73) dan mendengarkan kisah-kisahnya tentang dunia panahan, hanya satu kata yang dapat menggambarkan sosoknya yaitu dedikasi.

Sumarno saat ini terlihat tidak berbeda dengan lelaki seumurannya dengan langkah kaki dan suara yang berat dan berumur. Namun semua pandangan itu sekejap lenyap saat melihatnya duduk di depan alat kerja dalam bengkelnya dan mengerjakan pekerjaan yang telah ditekuninya sejak tahun 1960-an, memproduksi alat panah tradisional (alat panah kayu dan bambu).

Sumarno adalah seorang mantan atlet dan pelatih panahan PON yang kemudian menggeluti pembuatan alat panah. Belajar tentang teknik pembuatan panah dari ayahnya sendiri kini di usianya yang sudah uzur Sumarno masih sangat cakap dalam membuat alat panahan dengan dibantu dua pekerjanya.

Di usia yang tidak lagi muda Sumarno terhitung sangat produktif dalam menghasilkan karya berupa alat panah tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu. Dengan atau tanpa bantuan kacamata dirinya mampu merampungkan puluhan anak panah yang terbuat dari bambu dalam sehari.

Perajin Pembuat Alat Panah Atlet Nasional PON

Alat yang digunakan Sumarno tergolong sangat sederhana yaitu lampu minyak dan kompor. Dengan memanfaatkan panas dari lampu minyak, juga kompor gas untuk tahap pertama, Sumarno mampu membuat potongan bilah kecil bambu dari jenis Petung menjadi anak panah berkualitas tinggi.

Meskipun sempat terserang stroke, 2007, yang membuat tangan dan kaki sebelah kirinya mudah lelah, dirinya masih mampu menjaga kualitas dari anak panah yang dibuatnya. Matanya menjadi senjata utama untuk menemukan bagian bilah kecil bambu yang belum lurus. Dan dengan kedua tangannya serta bantuan panas lampu minyak bilah kecil bambu yang belum rapi tadi disulapnya menjadi anak panah yang sempurna.

Di dalam bengkel pembuatan panah di belakang rumahnya di perkampungan Dawung Wetan RT 02 RW 11 Danukusuman, Solo, Sumarno mengerjakan pesanan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk pengerjaan busur panah Sumarno tidak mengerjakannya sendiri, dibantu oleh Mardiyono yang juga masih terhitung tetangganya sendiri mereka mampu merampungkan dua set alat panah dalam waktu kurang lebih satu minggu.

Pembuat Alat Panah Tradisional Kampung Dawung Wetan

Harga satu set alat panah tradisional buatan Sumarno (selusin anak panah, busur panah, menggunakan bambu Petung dan kayu Sonokeling, stabilizer, dan visil) Sumarno memasang harga sebesar Rp 1,1 juta. Sementara untuk satu set alat panahan standar bow harganya mencapai Rp 3,5 juta.

Meskipun tidak seluruh bahan yang digunakan dapat ditemukan dengan mudah dari kawasan sekitar Solo, beberapa bagian menggunakan bahan impor, Sumarno mengaku bahwa saat ini hampir keseluruhan bahan cukup mudah untuk dicari. “Sekarang enak karena sudah ada yang ngepul (menjual bahan). Kalo dulukan tidak ada. Dulu kita harus mencari sendiri hingga kemana-mana (bambu Petung),” jelas Sumarno.

Namun dibalik kenyataan bahwa sekarang bahan untuk membuat alat panah tradisional mudah ditemukan, keberadaan kompetisi panahan menggunakan panah tradisional justru ditakutkannya akan semakin menghilang. Hal itu lumrah ditakutkan oleh Sumarno karena di level nasional seperti PON kategori panahan tradisional telah dihilangkan dan diganti dengan kategori nasional. “Panahan tradisional itu kan yang pertama. Kalau tidak ada panahan tradisional kita tidak akan mengenal panahan yang sekarang,” sesalnya.

Sumarno yang menurunkan keahlian membuat panahnya pada dua keponakannya memang hidup dan lahir untuk panahan tradisional. Lika-liku dalam membuat panah tradisional pernah dijalaninya dengan penuh resiko. Dirinya mengisahkan bagaimana dahulu untuk sekedar mencari Petung yang bagus dia harus mencari hingga berjalan kaki sejauh 25 kilometer menyusuri kawasan Telaga Ngebel, Ponorogo.

Perajin Alat Panah Tradisional Kota Solo Surakarta

Selain menguras tenaga, bahaya lain seperti perampokan juga menjadi pengalamannya tak terlupakan bagi Sumarno saat tengah mencari bambu di kawasan Gunung Merapi. Dirinya mengaku pernah dirampok hingga tiga kali di kawasan Merapi.

“Dulu kalo mencari bisa sampai ke Gunung Merapi dan kalo menginap numpang di rumah Pak Bayan (pejabat desa). Saat itu saya pernah digarong (dirampok) hingga tiga kali dalam satu bulan,” jelasnya sambil kemudian menirukan suara Pak Bayan, “Sudah Pak, sekarang pasti lebih aman tidur di tempat saya. Kemarin sudah kejadian malam ini tidak mungkin terulang lagi.” Tetapi akhirnya Sumarno harus kembali mendapati pengalaman yang sama untuk kali ketiganya.

Di balik kecemasan terhadap kondisi panahan tradisional, saat ini Sumarno masih optimis bahwa panah tradisional akan tetap mendapatkan tempat tersendiri seperti apa yang dijumpainya di Jogjakarta. Dan di masa yang diakuinya “sepi tidak, ramai juga tidak” seperti sekarang ini, Sumarno tetap berusaha mejaga keberadaan panahan tradisional dengan menghasilkan alat panah tradisional dari tangan-tangan tuanya dari dalam kampung Dawung Wetan, Solo, Jawa Tengah.

Sponsored Links

Comments

    • Wawan Surajah says

      mas abu zuhdi bisa menghubungi nomor 0813-2935-2640 (mbah sumarno)
      jangan lupa untuk me-LIKE Chic-Id.Com :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *