Monolog dalam teater adalah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Monolog juga dapat diartikan sebagai pengutaraan pikiran-pikiran seseorang dengan lantang oleh seorang pemeran. Tetapi bagaimana jika terdapat dua pemeran mengutarakan pemikiran-pemikiran yang sama dalam satu panggung tanpa berdialog?
Kedua pemeran tadi sama-sama membawakan karakter Nyi Sulastri. Seorang wanita terbuang yang kuat tetapi tetap tidak dapat lepas dari kodratnya untuk merindukan seorang pria berada disisinya. Pementasan monolog Nyi Sulastri digelar malam tadi (23/04/2013) oleh Teater Surakarta dan Kelompok Kerja Teater Akar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta.
Monolog dua pemeran
Masih dekat dengan peringatan Hari Kartini, penikmat teater kota Solo dihibur dengan sajian monolog bahasa Jawa bertema kewanitaan di Teater Arena malam tadi. Sajian monolog karya Gigok Anurogo semakin kuat dengan penampilan dua pemeran membawakan karakter Nyi Sulastri, Diah Palupi dan Kirana Yasmine.
Saat kedua pemeran tadi mendapatkan sesinya untuk tampil secara terpisah, penampilan mereka membawakan satu karakter yang sama tampak tidak jomplang. Dan ketika mereka disatukan dalam sebuah adegan penampilan mereka justru semakin menguatkan satu sama lain. Meskipun kedua pemeran tadi masih berada dalam monolog mereka masing-masing.
Adegan-adegan yang disajikan kadang berjalan dengan lamban saat kedua pemeran tampil terpisah. Saat mereka mengisahkan kesepian dan kerinduan mereka. Beberapa saat kemudian adegan berubah cepat dan saling bersautan menuruti suasana hati karakter Nyi Sulastri yang kadang marah dan sedih atau jatuh cinta dan berbunga-bunga.
Kekuatan dari kedua pemeran monolog Nyi Sulastri yang disutradarai Yogi Swara inilah yang menghidupkan panggung Teater Arena semalam. Mengikat penonton yang memadati gedung pertunjukan untuk terus mengikuti kisah sedih hidup Nyi Sulastri.
Kekuatan, kodrat dan kesetaraan wanita
Di atas panggung ditata beberapa jam dinding tergantung. Sementara di bawahnya terdapat pintu, batik, dan kotak yang kadang jadi peraduan Nyi Sulastri. Di dalam panggung itulah kedua pemeran tadi menghidupkan karakter Nyi Sulastri yang mandiri dan penuh harapan dalam waktu yang terus dan telah berjalan selama sekian tahun.
Sosok kuat dan gambaran hidup wanita dalam diri Nyi Sulastri dibuka dengan adegan berpamitan dan seruan bahwa dia bisa hidup mandiri tanpa suaminya Marno. Waktu kemudian justru diputar ke belakang, ke masa lalu yang membangun karakter Nyi Sulastri yang kuat dan mandiri. Waktu dimana Sulastri dijauhi anak-anak seusianya karena ibunya adalah seorang wanito planyahan (pelacur).
Beban hidup yang ditanggung Sulastri ternyata harus dibawa hingga dia tumbuh menjadi seorang anak perawan dan terus tumbuh hingga mendapat sebutan prawan kasep (perawan tua) dari lingkunganya. Dengan status yang ditempelkan pada dirinya Sulastri justru tumbuh menjadi seorang pekerja keras dan ulet.
Namun seberapa pun besar kekuatan, keuletan dan kemandirian Sulastri hanya dapat membawanya meraih kebahagian duniawi. Kodrat wanita sebagai manusia yang harus bersuami dan keturunan dan tentunya memenuhi kebahagian jiwa belum dapat dia temukan.
Pasangan hidup ternyata adalah cobaan besar bagi seorang Sulastri. Harapan mendapatkan suami membawa Sulastri ke titik hidup yang memilukan. Pertemuannya dengan Lardi berujung penipuan hingga dia kehilangan kehormatan, kesucian, dan harta. Sementara pertemuannya dengan Marno berujung perpisahan karena Lastri yang memiliki prinsip hidup kuat tidak dapat lagi bersabar dengan cara hidup pasrah yang dimiliki suaminya.
Pada bagian ini Gigok selaku penulis naskah tampak ingin menunjukan bagaimana kuatnya seorang wanita, bahkan melebihi pria, dan menyinggung tentang kesetaraan. Hal itu dapat dilihat dari sosok Sulastri yang dia kisahkan pernah hidup dalam kondisi terburuk, dicap sebagai anak pelacur dan pelacur sendiri, justru mampu bangkit dan sukses. Hal itu kembali dia tunjukan saat Sulastri kembali memilih untuk berjuang demi hidup layak saat suami yang hidup bersamanya di desa dalam pageblug justru hanya berserah dan bersandar pada nasib yang akan membawanya.
Akhir kisah Sulastri dalam monolog Nyi Sulastri tetap menggambarkan kodrat wanita sebagai manusia, makhluk sosial yang mencari teman hidup. Lewat pintu yang tidak pernah dia tutup, Sulastri tetap menunggu dan mengharap kehadiran pasangan yang akan menjadikan Sulastri wanita seutuhnya.




Leave a Reply