Suara khas itu datang dari ukulele yang dimainkan bersama dengan biola, flute, cello, dan kontrabas. Terdengar juga suara petikan gitar dari si penyanyi. Sususan khas band yang sering kita mengerti dengan nama orkes keroncong atau biasa disingkat OK.
Sajian seperti ini selalu hadir rutin ke hadapan para penggemarnya di Pendopo Agung Taman Buday Jawa Tengah, tepatnya setiap Selasa malam pada minggu ketiga setiap bulannya. Tidak hanya satu orkes keroncong tetapi dua sekaligus hadir menghangatkan malam-malam para pecinta musik tradisional yang konon berasal dari Portugis ini.
Yah, warga Kota Solo yang terkenal sebagai kota tempat tinggal maestro keroncong Gesang memang tidak pernah kehilangan musik tradisionalnya. Melalui Lesehan Keroncong Asli Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), pembinaan terhadap seni musik tradisional ini coba dilakukan, tentunya agar keroncong terus berkembang di dalam kehidupan masyarakat.
Program yang digulirkan oleh TBJT ini memang tidak hanya menampilkan orkes-orkes keroncong dari berbagai daerah untuk tampil dan membawakan lagu atau langgam yang sudah ada. Mereka yang diundang untuk tampil dalam Lesehan Keroncong Asli juga dituntut untuk membawakan minimal satu lagu baru karya kelompok dan atau karya orang lain yang belum pernah dipublikasikan dalam bentuk rekaman.
Konsep berbeda juga digunakan untuk mengemas pertunjukan musik keroncong yang biasa dimulai dari jam 8 malam ini. Panitia menggunakan format dua orkes keroncong yang tampil bersamaan dalam satu panggung. Secara bergantian, dua kelompok ini akan menghibur masyarakat pecinta musik keroncong yang duduk lesehan di hadapan mereka.
Memang penonton yang hadir tidak sebanyak pergelaran tradisional lainnya seperti ratusan penonton wayang kulit yang selalu membanjiri pendopo. Akan tetapi puluhan pecinta musik keroncong yang sudah menjadi penggemar Lesehan Keroncong Asli TBJT selalu setia dan menyempatkan diri untuk hadir meramaikan suasana malam Rabu di Pendopo Agung.
Jangan kira penggemar program ini hanya mereka yang yang berusia paruh baya yang pernah merasakan masa jaya musik ini pada era 1970 – 1980-an saja. Tidak sedikit pengunjung yang hadir adalah mereka yang masih muda usia. Mereka duduk membaur berlesehan bersama puluhan penonton lainnya yang memang rata-rata sudah lebih berumur dari para pemuda ini.
Selain suguhan hangat dari penampilan para penyaji yang kadang datang jauh dari Kota Solo, suguhan-suguhan penganan tradisional juga banyak dijajakan di sekitar pendopo ketika Lesehan Keroncong Asli berlangsung.
Dari penjual wedang ronde, kacang rebus, hingga wedang jahe, teh, atau kopi juga bisa dibeli di angkringan di sekitar pendopo. Tidak hanya hangat dengan musik keroncong, penonton juga bisa menikmati secangkir wedang sambil berlesehan bersama puluhan pecinta musik keroncong lainnya.
Pembinaan dan pengembangan musik tradisional ini tidak hanya dikemas secara berbeda saja. Penonton yang hadir juga ikut berperan sebagai patokan terhadap perkembangan musik ini. Meskipun dengan berlesehan, tetap saja para penggemar ini mengambil peran penting terhadap pengembangan dan pembinaan musik keroncong. Karena tolak ukur dari semua usaha para pemusik tradisional ini tidak lain adalah para penggemarnya.
Mari berlesehan di Lesehan Keroncong Asli TBJT setiap Selasa malam minggu ketiga!



Leave a Reply