Itulah kenapa saya hari ini memakai sepuluh topeng sekaligus. Ini bukan pilihan main-main, saudara-saudara. Hidup di zaman ini, kita memang harus punya banyak wajah.
Kutipan kalimat di atas diucapkan oleh Samiun, salah satu tokoh dalam drama Festival Topeng. Ucapan Samiun menjadi sebuah pengantar untuk lebih memahami jalan cerita parodi drama yang ditulis oleh Budi Ros. Naskah yang juga memenangi Juara Harapan I Sayembara Menulis Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 2003 ini dibawakan oleh Teater Gadhang UNS semalam (11/12/2012) di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah.
Pentas produksi yang ke-20 semalam menjadi hiburan panjang bagi pengunjung yang memadati Teater Arena bahkan meluber hingga ke dalam panggung pertunjukan. Berdurasi kurang lebih dua jam, Teater Gadhang menyajikan naskah drama karya Budi Ros yang mengisahkan sebuah tradisi festival topeng di sebuah desa bernama Mosokambang. Cerita yang tersaji dari pementasan naskah ini sudah dapat ditebak sebelumnya dengan memandang topeng sebagai sebuah simbol atau representasi.
Alkisah sebuah tradisi festival topeng kembali digelar di Desa Mosokambang. Namun, festival kali ini tidak berjalan semestinya ketika Mbah Joyo yang merupakan sesepuh dalam festival ini memilih untuk berhenti mengikuti festival dan tidak ingin menggunakan topeng lagi. Pilihan Mbah Joyo ternyata tidak dapat diterima oleh pihak lain yang berseberangan pendapat. Mbah Joyo yang kadung menjadi panutan warga harus dihilangkan, tentunya agar warga tidak mengikuti jejak Mbah Joyo meninggalkan festival.
Pihak berseberangan yang tidak lain adalah tetua dan perangkat desa yang sekaligus menjabat sebagai panitia festival dengan segala cara memanipulasi warganya untuk terus berada di jalur yang mereka inginkan. Hal ini tentu tak lain agar dapat mewujudkan keinginan para “politikus” desa ini. Dibalik kekisruhan yang melanda festival ini ternyata terdapat berbagai kejadian yang menarik. Hubungan antar pribadi di dalam pihak yang bersekongkol menghilangkan Mbah Joyo ternyata tidak solid. Hal ini juga yang akhirnya menggagalkan rencana mereka sendiri. Mereka yang berkuasa justru jatuh karena kelakuan jelek mereka sendiri seperti bermuka dua, berkhianat, berselingkuh, ambisius, dan egois.
Kisah ini muncul sebagai sebuah sajian menarik karena permasalahan yang diangkat terasa begitu dekat dan nyata dalam kehidupan masyarakat kita. Topeng juga menjadi pilihan tepat atas representasi perilaku menyimpang dari karakter-karakter di dalam cerita. Hal ini semakin menarik ketika mengutip analisa dari Muntijo atas naskah yang dapat lebih jauh lagi ditafsirkan oleh para penikmatnya ⁽¹⁾.
Tafsir festival Topeng dapat berkembang secara lebih luas menjadi rangkaian kritik mengenai pemilu, rebutan kursi, dan saat ketika semua orang ingin menjadi pemain (politikus). Acara Festival Topeng dapat ditafsirkan sebagai kegiatan Pemilu. Dalam festival topeng ada berbagai macam topeng yang dikenakan. Ini dapat menggambarkan berbagai macam partai politik. Fenomena-fenomena yang mengikuti rangkaian pemilu antara lain, banyak orang yang ingin ikut atau menjadi politisi. Dalam Festival Topeng banyak orang yang ingin mengikuti festival dengan menjadi pemain langsung meskipun belum mampu/atau berkualitas.
Mengutip dari tulisan di atas, perilaku seperti bermuka dua hingga meloncat dari satu partai ke partai lain atau cari aman dengan mengkambing-hitamkan rekan sendiri dalam dunia politik muncul sebagai sebuah hal biasa bahkan jauh ketika sedang tidak dekat atau berlangsungnya pesta demokrasi pemilu. Gambaran tentang golongan putih atau golput dalam pemilu juga dapat dilihat dari dua karakter yang sibuk bertani dan tidak mengikuti festival. Mereka berdua juga tampak berbeda dengan karakter lainnya karena mereka muncul dengan tidak mengenakan topeng seperti yang lainnya.
Kembali pada acara pementasan semalam, artistik dari Teater Gadhang tampak membangun sebuah panggung besar dengan juga memanfaatkan tribun penonton bagian barat sebagai bagian dari panggung pertunjukan. Tempat duduk yang berjajar ke atas diubah menjadi sebuah ladang singkong sementara di panggung bawah sebuah panggung dan layar besar menjadi arena berlangsungnya festival. Selain kedua lokasi tadi, masih banyak lagi lokasi lain dibangun di dalam panggung seperti rumah, ruang tamu, kebun, dan lainnya. Tak pelak, banyaknya lokasi dan banyaknya adegan kemudian diikuti oleh banyaknya black out dan juga panjangnya durasi pementasan Festival Topeng yang berlangsung semalam.


hehehe, tulisan saya dikutip. itu tulisan (tulisan saya sendiri dalam kutipan) masih belum sempurna meskipun analisisnya (saya anggap) menarik. Maaf bahasanya masih centang-perenang.
salam kenal, monggo bersastra.
analisanya menarik mas karena itu saya kutip untuk artikel ini. mohon maaf sebelumnya jika dalam penulisan info kutipan kurang tepat tapi tidak mengurangi maksud saya bahwa analisa dalam kutipan adalah analisa mas muntijo