Don’t Cry Kumbokarno: Tangisan Kumbokarno Oleh Teater Surakarta

Rabu malam, 10 Oktober 2012, menjadi malam pembuka Gelar Teater Jawa Tengah yang diadakan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah. Gelaran teater ini tak hanya akan menampilkan empat kelompok teater dari empat wilayah di Jawa Tengah saja tetapi juga menjadi ajang seleksi bagi mereka penampil terbaik yang nantinya akan direkomendasikan untuk mengikuti ajang serupa di tingkat nasional yang akan digelar di Jakarta November nanti.

Menjadi pembuka Gelar Teater Jawa Tengah malam tadi adalah kelompok teater dari kota tuan rumah, yaitu Kelompok Teater Surakarta atau TERA. Malam tadi mereka membawakan naskah sama yang beberapa waktu lalu mereka pentaskan di ISI Surakarta, Don’t Cry Kumbokarno. Naskah karya Muchus B. R. ini mereka bawakan kurang lebih dengan durasi 60 menit lebih di hadapan ratusan pengunjung yang membanjiri Teater Arena. Yah, antusias penonton dalam acara pembukaan malam tadi benar-benar dapat terlihat dengan jelas karena hingga tepian panggung pun jadi tempat duduk penonton yang sudah tak kebagian tempat duduk.

Sutradara dari pertunjukan malam tadi adalah Gigok Anurogo yang menampilkan lima orang pemain di atas panggung yang tampak seperti gua dengan cahaya remang dan penuh dengan sarang laba-laba. Kelima pemain ini tidak banyak berbeda dengan pemain-pemain yang membawakan naskah ini dalam beberapa kesempatan sebelumnya. Di antara mereka adalah Yustinus Popo, Yogi Swara, Dodik, Mochan dan Guntur Cunong. Pementasan oleh Kelompok Teater Surakarta ini memanfaatkan iringan musik live yang disembunyikan tepat di belakang set ruang yang berupa sarang laba-laba raksasa. Selain itu, kelompok ini juga membangun suasana dengan menyulut dupa di tiap pojok sudut gedung pertunjukan sehingga memunculkan bau wangi khas.

Don’t Cry Kumbokarno sendiri adalah naskah yang dikatakan sebagai tafsir baru cerita pewayangan. Naskah ini menceritakan sosok raksasa buruk rupa bernama Kumbokarno yang berjuang untuk negerinya Alengka dan bukan untuk kakaknya yang menjadi raja zalim, Rahwana. Membuka pementasan ini, tiga sosok buruk rupa berdiri di atas batu sembari melihat sesosok tubuh tertidur di bawah mereka. Sosok tidur inilah raksasa buruk rupa berhati emas, Kumbokarno.

Sarang laba-laba raksasa membentang di dalam gua tempat Kumbokarno tertidur dengan memegang gaman-nya yang berupa tongkat. Aroma kehidupan raksasa terhendus kala empat sosok raksasa ini berdialog dengan nada yang lantang satu sama lain. Selain itu, Kumbokarno yang murka karena omongan tiga orang keponakannya itu juga berdialog sembari mengayun-ayunkan tongkatnya sesekali memukulkannya dengan keras hingga memecah keheningan. Aroma raksasa juga makin terbangun ketika tiga sosok yang tadi berdiri di atas batu kemudian mengguling-gulingkan batu yang tadi mereka injak mengitari paman mereka Kumbokarno.

Kumbokarno menangis adalah bagian dari kisah Don’t Cry Kumbokarno di mana sang raksasa berhati emas itu harus berdiri ikut berperang meskipun itu bukanlah kemauan terbesarnya. Hal itu tak lain karena Alengka yang dibakar prahara tak lain adalah akibat dari perilaku kakaknya Rahwana yang menjadi raja kejam dan jahat yang menculik Shinta sehingga negeri mereka diserang pasukan kera Anoman. Ketiga sosok yang datang membangunkan Kumbokarno berhasil mematik rasa murka Kumbokarno karena perang yang terjadi mengakibatkan banyak korban tidak berdosa di negeri Alengka.

Kumbokarno yang tidak suka dengan sifat kakaknya dan memilih mengasingkan diri kini harus bangun dan ikut berperang melawan Rama. Yang membuat dirinya murka dan menangis adalah kenyataan saat dia harus ikut berperang membela negerinya meskipun dia tahu benar bahwa dia akan berdiri di pihak yang salah jika dia terlibat dalam peperangan besar itu. Tetapi itulah jalan yang harus dilaluinya, berperang di pihak yang salah untuk melindungi rakyatnya yang menjadi collateral damage dari perang besar sekaligus membela negeri yang dicintainya.

>

Sponsored Links

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Trackbacks

  1. [...] yang terpilih. Sebagai kelompok tuan rumah, TERA sendiri tampil pertama dengan membawakan kisah Don’t Cry Kumbokarno karya Muchus B. [...]

Speak Your Mind

*

Tweet