Pertunjukan karya tari kolaborasi tiga koreografer di Kota Solo bertema Angin Pagi Di Persimpangan sukses digelar malam tadi (15/03/13) di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Pertunjukan tari kolaborasi yang menghadirkan tiga koreografer sekaligus penari semalam menghadirkan kesan cantik, mantap, dan baru bagi pengunjung yang memadati Teater Arena.
Adalah satu-satunya penyaji putri, Enno Sulistyorini, tampil membuka pertunjukan tari Angin Pagi Di Persimpangan yang dimulai kurang lebih pukul 20.00. Enno membawakan karya tari berjudul Pagi Yang Dipungut. Sebuah karya tari yang terilhami dari pagi. Pagi yang dianggap sebagai waktu awal untuk berpikir, bercita-cita, dan bekerja, mengawali sesuatu untuk dilakukan sepanjang hari.
Dari pagi kemudian Enno membawakannya dalam olah tubuh berbalut kostum hijau. Enno juga menggunakan properti berupa papan putih di belakang yang menyerupai tembok dengan dua sisi, seperti sudut pojok dalam sebuah kamar.
Dari gerakan tubuh yang dibawakannya, sesekali dia meniru gerak pendulum jam, ke kanan dan ke kiri dekat dengan tembok putih di belakang.
“Penampilan yang cantik karena penari sepertinya tidak ingin berusaha tampil cantik dan lebih fokus dengan geraknya,” sedikit komentar pengunjung dari sudut penonton.
Sesi pertama yang anggun dengan gerak penari putri berubah saat sesi kedua Angin Pagi Di Persimpangan dimainkan oleh Danang Pamungkas. Danang membawakan karya tari A Part of Passion. Karya tari A Part of Passion adalah “bagian” dari karya utuh berjudul Passion yang sebelumnya pernah ditampilkan dalam beberapa pementasan.
“Mantap!” begitu komentar pengunjung lain dari sudut penonton. Mantap memang gerakan di sesi kedua dari Danang yang membawakan gerak teratur lembut hingga cepat disertai beberapa kali suara nafas yang makin menghidupkan penampilannya.
Iringan yang dipakai dalam mengiringi gerak juga menjadi elemen penting yang memantapkan penampilan Danang. Musik orkestra menjadi pilihan penari dan koreografer yang juga memiliki pengalaman berkesenian di Taiwan ini untuk mengiringi ungkapan diri dalam menghadapi keinginan besar (passion) dalam hidup.
Sesi ketiga sekaligus sesi penutup pertunjukan tari Angin Pagi Di Persimpangan menjadi giliran Agus Mbendol Margiyanto dengan suguhan yang “baru” bagi pengunjung malam tadi. “Baru” dari Agus Mbendol adalah konsep dalam karya tari Simpangampat yang menggunakan properti tepung terigu sebagai alas menari.
Simpanggampat adalah karya tari yang mengangkat tema titik pertemuan, titik perpisahan, titik awal, layaknya titik di sebuah persimpangan. Tumpukan tepung terigu yang dibuat membulat menjadi representasi titik itu. Sementara Agus Mbendol menari diatasnya mengejakan karyanya dalam gerak tubuh yang hanya berbalut celana.
Tepung putih yang menempel semakin memberikan karakter pada tubuh penari ini. Agus sendiri sesekali juga membawakan gerak seperti saat berada di tengah persimpangan. Menoleh ke satu arah kemudian berganti ke arah lain dan sesekali seperti melihat keberadaan seseorang di titik yang lebih jauh. Dalam gerakan-gerakan itu pula tepung putih ikut terbawa dan memainkan perannya.






Leave a Reply