• Home
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Twitter
  • Facebook
  • RSS

CHIC:ID

Nikmati Siklus Hidupmu

  • Wisata
  • Tradisi dan Budaya
  • Agenda Acara Kota Solo
  • Seni dan Pertunjukan
  • Fotografi
  • Musik
Beranda - Seni dan Pertunjukan - Cak Min Dan Realitas Simbok-Simbok Klaten Dalam Karyanya

Cak Min Dan Realitas Simbok-Simbok Klaten Dalam Karyanya

August 5, 2012 by Wawan Surajah 7 Comments

Karya "Ghudangan Lethok Koyor"

Wah mas Cakmin Mustamin, itu makanan paling saya suka untuk sarapan pagi, nyam nyam…

Kutipan di atas adalah komentar dari GM Sudarta pada sebuah koleksi lukisan Cak Min berjudul Ghudangan Lethok Koyor yang didokumentasikan dalam sebuah foto dan diposting dalam salah satu album foto di akun Facebook Cakmin Mustamin.

Cak Min, begitu lekat nama ini dia sandang sejak jaman dirinya masih melukis di jalanan. Nama yang katanya dilontarkan oleh mereka-mereka yang mengenalnya saat masih melukis wajah-wajah orang yang menyewa jasanya. Tetapi justru waktu itulah waktu tumbuh Cakmin Mustamin menjadi seorang lelaki dewasa, waktu dirinya mengasah mental dan ilmunya bukan di dalam sebuah galeri atau studio tetapi di jalanan dengan komentar-komentar yang dianggapnya begitu nyata dan membentuk dirinya saat ini.

Bakat melukis Cakmin memang sudah ada sejak dirinya masih kecil. Duduk di kelas 4 sekolah dasar dirinya mulai menunjukkan kemampuannya dengan memenangi lomba lukis se-kecamatan. Bakatnya itu juga dilihat oleh guru seni rupanya saat duduk di bangku SMA. Oleh sang guru Cakmin disarankan untuk mengembangkan ilmunya di Bali atau Jogja begitu tamat sekolah. Mengikuti saran sang guru dirinya pun berangkat untuk mengembangkan bakatnya di Bali dan Jogja, namun tak banyak yang bisa ditangkap saat dalam perantauan itu ujar bapak dari dua putra (sebentar lagi tiga) ini.

Pelukis yang pernah menggelar pameran tunggal di Sahid Kusuma Solo tahun 1995 ini justru mendapatkan banyak inspirasi dan pembelajaran saat dia belajar pada salah satu pelukis realis besar asal Klaten, Rustamadji. Di kediaman Rustamadji pula Cakmin tak hanya mendapat ilmu tetapi juga pengalaman dari pelukis-pelukis lain yang dia temui di sana hingga pada akhirnya tergabung dalam paguyuban mereka yang tak lain adalah PASREN atau Paguyuban Senirupawan Klaten. Namun, hingga saat itu dirinya mengaku belum terfokus pada sebuah tema yang menjadi ciri khasnya seperti saat ini dengan lukisan simbok-simbok (ibu-ibu dalam Bahasa Jawa).

Adalah pada tahun 1999, saat dirinya benar-benar menemukan fokus lukisannya setelah sempat melukis dengan cat, kuas, dan kanvas yang di dapat dari pemberian kenalannya yang juga menjadi penjualnya. Hal itu pula yang mendorong Cakmin Mustamin untuk maju, melukis lukisannya sendiri dengan namanya tertera didalamnya dan merasa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas karya-karyanya. Dan saat itu pulalah Cakmin mulai melukis ratusan karya bertema simbok-simbok hingga sekarang ini.

Pelukis yang masih tergolong muda ini menggunakan media cat minyak pada kanvas dalam lukisannya. Aliran realis dipilih karena aliran ini dipandangnya dapat dinikmati oleh semua orang secara umum dan secara khusus mampu mewujudkan apa yang ingin dia sampaikan. “Setiap lukisan memiliki ceritanya sendiri-sendiri dan juga filosofi sendiri,” ungkap Cakmin dalam wawancaranya kepada Chic-Id.Com. Namun secara luas karya-karyanya juga tersirat dari kerinduan akan sosok ibu atau simbok-nya, yang dirinya sendiri sudah menjadi yatim piatu sejak kecil dan tidak tahu akan rupa sang ibu. Satu-satunya kenangan yang dimiliki akan sosok simbok hanyalah kain jarik yang sering dikenakan dan sosok simbok seperti yang dikenang oleh Cakmin ini lah sekarang menjadi ciri khas lukisannya.

Selain sebagai jembatan diri dengan kecintaan akan sosok simbok-nya, lukisan-lukisan Cakmin yang bercerita tentang simbok-simbok juga adalah realitas yang ditangkapnya dalam kehidupan yang sekarang dijalaninya di Klaten tempat sekarang dirinya tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Sosok asli asal Sidoarjo ini menemukan nilai-nilai yang tidak ditemukan di tempat lain dan karena itu lah dia lebih memilih Klaten sebagai lokasi dirinya memproduksi lukisan-lukisannya. Nilai-nilai itu tampak sangat nyata dalam tiap lukisannya baik yang sudah terjual ke kalangan penggemar dan kolektor atau yang masih tersimpan digalerinya.

Simbok-simbok yang hanya ditemuinya di Klaten itu bukan muncul sebagai sebuah konotasi, tetapi simbok-simbok ini muncul sebagai sebuah realita dan secara apa adanya pula diwujudkan dalam tiap karyanya. Karena itu, nuansa tradisional khas Klaten sangat kental dalam lukisan-lukisannya seperti yang dapat dilihat dari karya-karyanya yang berjudul Ghudangan Sor Pelem, Ghudangan Lethok Koyor, Wayah Rolasan, Menyang Kutho, Jagongan, Weleh Rem-e Blong, Nginceng Endok, dan masih banyak lainnya.

Karya "Ghudangan Sor Pelem"

Dalam lukisan-lukisan itu Cakmin menggambarkan berbagai macam rutinitas dan kegiatan simbok-simbok dalam kehidupan sehari-hari. Dari keramaian pasar, percakapan, transaksi dagang, berpergian dengan sepeda atau kendaraan dan banyak lagi kegiatan simbok-simbok itu ditangkapnya dalam lukisan. Tak hanya nuansa tradisi yang dapat dirasakan dari lukisannya tetapi juga nilai filosofi dari gambaran nyata itu pula tersirat dari lukisan-lukisannya.

Cak Min yang tergolong masih dalam usia produktif ini sangat lancar dalam berkarya. Dirinya mengaku dapat mengerjakan sebuah lukisan dalam waktu kurang lebih 10 hari, dengan tetap mempertahankan prinsip bahwa sebuah lukisan harus diperlakukan sama dari ujung ke ujungnya karena semua yang ada dalam lukisannya itu berperan penting. Karya lukisan Cakmin dapat dilihat langsung ke galeri yang juga adalah kediamannya di daerah Bareng, Klaten, dengan alamat Jalan Rajawali Gg. Lele No 3. Beberapa karyanya juga dapat dinikmati di akun Facebook Cakmin Mustamin dalam beberapa album foto.

Di luar Klaten, kegiatan Cakmin dapat juga diikuti di Ancol Art Festival. Berikut adalah daftar beberapa pameran yang pernah diikuti Cakmin selama ini: “Jejak Estetika” di Sanggar Bambu TBY Jogja, “Genta Seni Budaya” di SAC Surabaya, “Neo Realisme” di TBJ Semarang, “Symphony of Harmony” di Grand Melia Jakarta, “Indonesia Satu” di WTC Jakarta, “Gelar Lukis PASREN” di Benteng Vredeburg Jogja, “International Open Air Gallery” di Magelang, “Drawing In The Wind” di Galeri Ancol Jakarta, “Menembus Kisi-Kisi” di Balai Soedjatmoko Solo, dan lainnya.

Karya "Wayah Rolasan"
Karya "Nginceng Endhok"
Karya "Menyang Kutho"
Karya "Weleh Rem-e Blong"

Filed Under: Seni dan Pertunjukan Tagged With: Cak Min, Cakmin Mustamin, Lukisan Simbok-Simbok, Paguyuban Senirupawan Klaten, PASREN

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Comments

  1. alief surya says

    October 8, 2012 at 13:35

    wiiihhh,, good job n can make my lips so close 😀

    Reply
    • cakmin mustamin says

      November 5, 2013 at 11:15

      thanks you alief surya..

      Reply
  2. tukang kacapatri9 says

    January 5, 2013 at 04:57

    kagum mantaps kalo sudah terkenal jangan lupa sama Tuhan,rekan ,kawan,sdr,………………serta keluarga seniman ……………………saya doakan sukses sll……
    manffaafkan barang serta wakyu yg ada>>>>>>

    Reply
  3. thio says

    March 8, 2013 at 14:18

    cakmin aku tertarik lukisanmu gudangan sor pelem regane pira ???

    Reply
    • cakmin mustamin says

      October 20, 2013 at 16:08

      terima kasih mas wawan surajah .atas wawan caranya terima kasih yg sudah melihat lihat..kawan2..saudara2…mas thio lukisan itu sudah diboyong kolektor ke jakarta..tetapi anda masih bisa pesan lukisan yg semisal tentu tidak sama dengan yg ini..

      Reply
      • Wawan Surajah says

        October 20, 2013 at 16:17

        kapan pameran ten solo maleh cak?

        Reply
  4. cakmin mustamin says

    October 20, 2013 at 16:12

    oh ya..ini hape saya..0816 422 0 424

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk Terbaik

New Arrival

Kategori

  • Agenda Kota Solo
  • Fashion
  • Film
  • Fotografi
  • Komunikasi
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Model Rumah
  • Musik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Seni dan Pertunjukan
  • Teknologi
  • Tradisi dan Budaya
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Wisata Boyolali
  • Wisata Karanganyar
  • Wisata Klaten
  • Wisata Solo
  • Wisata Sragen
  • Wisata Sukoharjo
  • Wisata Wonogiri

Komunitas Chic:ID

Copyright © 2017 · Magazine Pro Theme on Genesis Framework · WordPress · Log in