Naskah Ayahku Pulang karya Usmar Ismail tampaknya menjadi naskah paling dilirik oleh peserta Festival Drama Realis Remaja tingkat SMA yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Teater ISI Surakarta dan Teater Jejak ISI Surakarta. Hal ini terlihat dalam pementasan pertama yang berlangsung malam tadi (15/12/2012) di Teater Kecil ISI Surakarta. Kelompok Teater Timboel SMA Negeri 5 Surakarta dan Teater Andong SMA Negeri 1 Andong Boyolali yang mendapat giliran tampil dihari pertama FDRR secara bergantian membawakan naskah yang disadur dari “Chuchi Kaoru, Kikuchi Kwan” itu.
Dalam pembukaan FDRR semalam, kelompok Teater Timboel dari SMA Negeri 5 Surakarta tampil lebih dahulu. Dengan durasi kurang lebih satu jam yang diberikan oleh panitia acara, kelompok ini menyajikan naskah ini dengan kemasan cukup berbeda. Perbedaan terlihat dari karakter Gunarto, anak sulung Raden Saleh (ayah), yang digantikan oleh seorang pemeran wanita yang sekarang bernama Gunarti.
Sutradara dari kelompok teater ini adalah Yustinus Popo. Sajian artistik realis dari kelompok ini membagi panggung ke dalam tiga ruang, ruang tamu, ruang keluarga, serta ruang makan. Tatanan islami tampak begitu melihat hiasan kaligrafi yang ada di ruang keluarga. Kelompok ini juga lebih memunculkan suasana sederhana dari sebuah keluarga yang berisi ibu dan ketiga putrinya.
Kelompok kedua yang juga menutup pergelaran FDRR malam pertama datang cukup jauh dari Andong, Boyolali. Kelompok Teater Andong SMA Negeri 1 Andong Boyolali dengan sutradara Adi Nurohman secara berbeda menyajikan naskah sama yang dibawakan kelompok pertama. Kali ini, Teater Andong tidak merubah karakter-karakter yang ada dalam naskah dimana Gunarto tetap diperankan seorang pemeran pria.
Secara lebih sederhana kelompok ini membagi ruang artistik dalam panggung menjadi dua yaitu ruang tamu di sebelah kiri dan ruang makan di sebelah kanan, sementara itu panggung tengah mereka biarkan kosong. Ruang tengah kosong ini ternyata mereka persiapkan untuk adegan inti pada tengah dan akhir cerita saat sang ayah dihujat oleh Gunarto. Melengkapi set realis, kelompok ini mengusung ketupat dan janur kuning ke dalam ruang tamu untuk memunculkan suasana hari raya. Selain itu, di atas meja makan secara lengkap mereka juga menaruh bakul nasi berisi nasi atau teko air terisi.
Naskah Ayahku Pulang
Naskah Ayahku Pulang sendiri adalah naskah karya Usmar Ismail yang disadur dari “Chuchi Kaoru, Kikuchi Kwan”. Naskah ini oleh sang penulis juga pernah diangkat ke dalam layar lebar dengan judul “Dosa Tak Berampun” pada tahun 1951. Kisah yang ditawarkan naskah ini adalah sebuah drama keluarga.
Tokoh utama dalam naskah ini adalah Raden Saleh yang dua puluh tahun silam menceraikan dan meninggalkan istrinya, Tina, yang hamil (Mintarsih/putri dalam kandungan) bersama kedua anaknya yang masih kecil bernama Gunarto dan Maimun tepat pada malam sebelum hari raya. Raden Saleh yang kala itu kaya raya lebih memilih pergi meninggalkan keluarganya untuk berbisnis dan jatuh dalam belaian seorang wanita asing. Berbisnis di Singapura dirinya semakin jaya hingga tempat usahanya hangus habis dalam sebuah kebakaran. Hal itu masih ditambah dengan kenyataan bahwa saham-saham yang dimainkannya jatuh dan membuatnya bangkrut.
Celaka yang diterima Raden Saleh seperti sebuah karma yang diterimanya akibat meninggalkan istrinya yang hamil dan anak-anaknya yang masih kecil hidup dalam kemiskinan. Di lain tempat, Tina dibantu anak sulungnya dengan bekerja keras menghidupi keluarga. Gunarto sebagai anak pertama merasakan segala susah payah hidup demi ibu dan adik-adiknya layaknya seorang kepala keluarga sejak usia dini.
Semua itu kemudian membentuk pribadi Gunarto sosok yang keras. Adik-adiknya bahkan ibunya masih bisa berfikir tentang ayah mereka yang lama pergi namun Gunarto berbeda. Dia tidak lagi menganggap pernah memiliki ayah dan dia telah lama berusaha membiasakan diri dengan itu.
Kemudian tibalah 20 tahun setelah perceraian seorang lelaki tua, lusuh, gelandangan, dan miskin mengetuk pintu rumah Tina. Dia tidak lain adalah Raden Saleh yang kembali kepada keluarganya. Keluarga yang diingatnya kembali sesaat setelah dia jatuh bangkrut, miskin, menderita, dan jauh dari keluarga. Meskipun kaget, Tina beserta Maimun dan Mintarsih bisa menerima kehadiran ayahnya tetapi tidak bagi Gunarto.
Gunarto yang dendam kemudian menghina, menghakimi, dan juga mengusir Raden Saleh dari rumah mereka. Meskipun bertentangan dengan kedua adiknya dan juga ibunya, Gunarto tetap bersikeras tidak menginginkan Raden Saleh tinggal bersamanya setelah 20 tahun penderitaan yang dia rasakan. Raden Saleh yang dahulu kaya raya dan terhormat akhirnya terusir oleh darah dagingnya sendiri kemudian menjeburkan dirinya ke sungai.
Gunarto yang tadinya begitu keras berubah menjadi histeris saat adiknya Maimun yang berlari mengejar ayahnya hanya menemukan kopiah serta baju kotor ayahnya tergeletak di bawah lampu dekat jembatan. Di akhir cerita justru Gunarto kembali yang harus menanggung beban berat keluarganya karena akibat balas dendamnya, ayah kandungnya Raden saleh nekat pergi dan bunuh diri. Gunarto dan keluarganya begitu menyesal dan menangis dalam akhir cerita.


