Dengan sabar dan rapi ujung canting batik yang basah dengan malam mengikuti lekuk pola jenis Pisang Bali di atas kain putih berpola. Ibu jari dan jari panjang kaki Ayu tampak kuat menahan canting berisi malam panas. Sementara bagian betis kaki kanan bergerak selugas lengan tangan. Dalam seminggu satu lembar kain berukuran 2,5 meter itu akan selesai dibatik.
Ayu Tri Handayani, 23 tahun, seorang tuna daksa lulusan SMA YPAC Surakarta mengisi hari-harinya dengan membatik di rumahnya di kawasan Sawahan, Boyolali. Setelah mengenal membatik untuk kali pertama pada tahun 2008, kini batik telah menjadi hidupnya. Selain menghasilkan uang, batik juga menjadi bagian penting dalam hidupnya yang kini sangat ia gemari.
Dengan kondisi kedua tangan yang tak tumbuh sempurna sejak lahir, rasa pesimis muncul saat Ayu memasuki usia remaja. Dirinya sempat berfikir dengan kondisi kedua tangan yang tak tumbuh sempurna maka pekerjaan formal hanyalah angan-angan.
Tahun 2011 Ayu yang sudah mengenal dasar membatik dari sekolah dipertemukan dengan Abu Bakar, seorang pengusaha batik cap dan tetangga Ayu, oleh ayahnya, Sarwono. Dari pertemuan itu Abu Bakar menjadi pembimbing Ayu untuk mengembangkan bakat membatik yang dilakukan dengan kaki kanan Ayu sekaligus menjadi “agen” dan “manajer” Ayu.
Tiga tahun lebih bekerja bersama Abu Bakar, Ayu dan batik-batik tulisnya telah berkeliling ke beberapa pameran bertaraf nasional seperti INACRAFT dan Gelar Batik Nusantara. Lewat pameran itu pula Ayu bertatap muka dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono, Kak Seto, Ibu Hj Sri Suharti, istri mantan gubernur Bibit Waluyo, serta beberapa tokoh lain yang sebelumnya tidak pernah dirinya bayangkan untuk bertemu. Itu belum terhitung tokoh lain yang juga telah memesan untuk memiliki batik Ayu.
“Saya merasa bangga dan senang. Membatik membuat saya memiliki banyak teman dan memupuk rasa percaya diri. Dengan batik saya bisa menunjukan ke orang lain bahwa yang difabel tidak berbeda dengan yang berfisik normal. Kita berkarya lewat kemampuan dan bakat masing-masing,” ujar Ayu.
Dengan membatik Ayu kini dapat menabung sejumlah uang untuk keperluannya sendiri. Dengan batik pula Ayu dapat membantu kedua orang tuanya membeli beberapa barang kebutuhan keluarga. Dengan batik Ayu semakin mandiri menjalani kesehariannya. Batik Ayu sendiri kini dihargai jutaan rupiah oleh para pembelinya.
Abu Bakar yang juga membimbing beberapa penyandang difabel lain sadar betul dengan kondisi Ayu. Karena itu untuk urusan membatik dirinya tidak pernah mengejar target, terutama soal waktu. Selain membatik dirinya juga mendorong Ayu untuk mampu membuat pola sendiri untuk batiknya. Sementara untuk ke depan Abu Bakar berharap Ayu mampu berkembang dan lebih dikenal publik.
“Orientasinya untuk membantu teman-teman. Termasuk juga dari sisi ekonomi. Agar karya mereka dapat dihargai dan dijual dengan porsinya sendiri,” ujar Abu yang melihat bahwa pembeli atau kolektor batik ingin memiliki batikan kaki Ayu karena tidak kalah kualitas dengan batikan tangan.
Batik bagi Ayu telah menjadi hidup dan penghidupan. Batik telah membulatkan semangat dan kepercayaan diri dari rasa minder dan malu yang pernah dirasakannya saat masih belia. Nilai-nilai di balik batik tulis Ayu juga telah mendapatkan tempat di hati pengagumnya. Ayu Tri Handayani dan batiknya telah menghidupkan semangat kehidupan bagi sesama.













Leave a Reply