
Judul: Baraka
Jenis Film: Dokumenter
Durasi: 96 menit
Tahun Release: November 1993 (Amerika)
Sutradara: Ron Fricke
Jika anda seseorang yang suka dengan keindahan alam serta manusia yang hidup didalamnya, sementara anda tahu bahwa anda tidak akan pernah bisa mengunjunginya dan melihatnya secara langsung dengan berbagai alasan yang anda miliki, mungkin yang anda butuhkan adalah sebuah mesin teleportasi. Mesin yang bisa mengantar anda berpindah-pindah ke mana pun tempat terindah dengan keistimewaan manusia dan alamnya. Atau anda cukup menemukan solusi dengan menyaksikan film dokumenter Baraka oleh Ron Fricke yang berdurasi kurang lebih 96 menit.
Film yang disutradarai oleh Ron Fricke ini diputar untuk pertama kalinya pada tahun 1992 pada Toronto International Film Festival di Canada. Gambar-gambar mencengangkan disajikan dalam film yang sudah beredar dengan format Blu-ray ini. Gambar-gambar tersebut datang dari 25 negara dalam enam benua yang berbeda. Karena itu, keseluruhan proses pembuatan film ini memakan waktu 30 bulan dengan kisaran waktu 14 bulan proses di lokasi.
Dalam film dokumenternya ini, Ron Fricke tak hanya menggunakan teknik biasa dalam pengambilan gambar. Dia juga menggunakan teknik time-lapse dalam film ini. Teknik yang digunakannya ini muncul dengan begitu mengejutkan dengan iringan musik yang cocok seperti gambar kabut awan yang tampak bergerak bergulung-gulung dan saling kejar melintas di atas padang pasir, gambar ribuan orang yang bergerak di jalanan kota Tokyo, gambar lalu lalang lalu lintas kota di Manhattan, atau gambar langit-langit malam dari berbagai tempat di dunia.
Selain teknik yang berbeda dia gunakan dalam film ini, Ron Fricke juga memperhatikan serta menangkap detil yang ada. Sehingga pada tiap gambar muncul keindahan yang bernuansa etnik seperti gambar dari suku-suku pedalaman di Brasil dengan tubuh dan wajah yang mereka warnai dan aksesoris bulu yang mereka kenakan, suku Aborigin yang menggambari tubuh mereka dengan corak titik-titik, atau suku pedalaman di Kenya yang menggunakan kalung, gelang, atau anting yang terbuat dari manik berwarna warni yang tersusun indah dan rapi.
Lebih dari itu, sisi lain pengambilan gambar seperti sudut pengambilan gambar juga membuat gambar-gambar dalam film ini tampak muncul dengan apa adanya. Hal lain yang diangkat dalam film yang mencoba menangkap bahasa kebangsaan, agama, dan politik ini juga memunculkan gambar akan agama-agama yang ada di dunia ini seperti gambar para penganut, lokasi, atau bagaimana mereka beribadah. Gambaran lain yang juga mencengangkan adalah bagaimana manusia yang hidup dan berkembang di berbagai belahan bumi ini menjalankan kepercayaan mereka masing-masing. Gambar-gambar seperti proses kremasi di pinggir Sungai Gangga tampak begitu apa adanya, para penari Kecak di Bali tampak begitu kusyuk dalam kemeriahan yang mereka bawakan, atau gambar seorang pendeta yang berdoa dengan tenang di tengah keramaian jalanan Tokyo.
Ron Fricke dalam filmnya ini juga memunculkan banyak gambar dari berbagai lokasi di Indonesia. Seluruhnya ada 11 lokasi di Indonesia yang diambil gambarnya oleh Ron Fricke. Ke 11 lokasi tersebut adalah Candi Borobudur di Magelang, Candi Prambanan di Jogja, Masjid Istiqlal di Jakarta, Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, Tabanan Kediri di Bali, para pembuat rokok Gudang Garam di Kediri, Gungun Bromo, Tampak Siring, Subak di Bali, Tari Kecak di Candi Gunung Kawi di Bali, dan Pura Uluwatu di Bali.
Kunci dari keindahan film Baraka ini bisa jadi terungkap dari pernyataan Roger Ebert dalam review pertama film ini pada tahun 1993. Dirinya berkata, “Sutradara, Ron Fricke, membawa kamera 70-mm-nya berkeliling dunia untuk mengambil gambar pemandangan alam dan manusia. Beberapa diantaranya pemandangan biasa seperti lalu lintas di Manhattan.* Beberapa benar-benar sangat mengagumkan seperti gerhana matahari. Beberapa sangatlah menyedihkan seperti terlihat saat para pemulung di Calcutta mengais sampah di tempat pembuangan sampah akhir.”
Pengulangan akan suatu hal membuat kita terbiasa dan merasakan hal itu muncul sebagai sebuah kebiasaan. Kebiasaan kita melihat hal-hal yang ada di sekitar kita dan mampu kita raih menjadikan hal-hal tersebut tampak biasa saja di mata kita. Seperti Roger Ebert yang melihat biasa pada lalu lintas di Manhattan, kita di Solo juga melihat biasa pada Sekaten karena kita sudah familiar dengan hal itu. Tapi bagi mereka di belahan bumi lain, yang melihat “hal yang biasa di mata kita” akan tampak begitu luar biasa di mata mereka, karena mereka telah melihat hal yang tidak biasa di mata mereka.
Inilah hal yang film dokumenter Baraka ini ingin sampaikan. Bagaimana film ini memunculkan gambaran kehidupan di berbagai pelosok negeri di dunia ini. Gambaran kehidupan yang muncul sebagai sebuah keindahan di mata mereka yang melihatnya. Karena itu, sudah barang tentu menjadi kewajiban kita untuk menjaga hal-hal yang indah ini, hal yang bisa kita rasakan sebagai barokah. Seperti film ini sendiri yang dibuat tanpa narasi, hanya dalam bentuk gambar dan suara. Tetapi untuk menikmatinya kita hanya perlu merasakannya.
Leave a Reply