• Home
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Twitter
  • Facebook
  • RSS

CHIC:ID

Nikmati Siklus Hidupmu

  • Wisata
  • Tradisi dan Budaya
  • Agenda Acara Kota Solo
  • Seni dan Pertunjukan
  • Fotografi
  • Musik
Beranda - Seni dan Pertunjukan - Karya Tari Pichet Klunchun, Jeritan Dalam Api Sinta Obong

Karya Tari Pichet Klunchun, Jeritan Dalam Api Sinta Obong

February 3, 2013 by Wawan Surajah 3 Comments

  • Indonesia
  • English

Pichet Klunchun Penari Koreografer Berprestasi Asal Thailand

Pichet Klunchun, koreografer asal Thailand, menjadi penyaji kedua dalam pertunjukan tari kolaborasi Fire Fire Fire yang digelar di Teater Besar ISI Surakarta (02/02/13). Koreografer yang pernah meraih penghargaan dari European Cultural Foundation atas keikutsertaannya dalam memerangi ketakutan dan sikap tidak menghormati sesama ini menampilkan karya yang terilhami dari epik Ramayana.

Sama seperti dua koreografer lainnya, Sophiline Cheam Shapiro dan Eko Supriyanto, Pichet Klunchun juga membuat karyanya dari epik yang sama namun dengan pendekatan dan sisi pandang berbeda dan tentunya menghasilkan karya yang berbeda pula.

Dalam karya Sinta Obong, berbeda dengan koreografer lainnya Pichet Klunchun ikut tampil bersama beberapa penarinya. Mereka semua tampil dengan mengenakan pakaian putih panjang dengan motif bergaris bada bagian dada hingga ke bawah.

Sentuhan kontemporer dalam karya koreografer yang terkenal dinegaranya setelah “meng-kontemporer-kan” kesenian Khon (sejenis sendratari mirip wayang orang) ini sangat tampak dalam tiap bagian yang dipertunjukan. Dari mulai awal hingga akhir pertunjukan penonton disuguhi gagasan-gagasan baru Pichet mengenai Sinta yang ingin membakar diri.

Pada awal penampilannya, Pichet Klunchun menari dengan dikelilingi penari yang membentuk lingkaran. Dari gerakan yang dibuat dan iringan yang digunakan tampak para penari sedang terbakar sedangkan iringan musik yang mengiringi disisipi suara ramai orang dan juga suara jeritan.

Sita's Trial by Fire oleh Pichet Klunchun

Pada adegan selanjutnya koreografer dan penari ini membuat formasi berbeda dimana dia menari di depan para penari yang mengibas-ngibaskan pakaian mereka sehingga menyerupai kobaran api. Pichet Klunchun yang berprestasi dan juga baru saja mendapatkan penghargaan dari Kementrian Budaya Prancis ini ternyata terilhami oleh sosok koreografer ballet terkemuka asal Rusia, Vaslav Nijinsky.

Hal itu seperti apa yang dilaporkan dalam blog tanzconnexions, dimana Pichet menggunakan potongan musik komposisi Igor Stravinsky yang dijadikan iringan musik pada koreografi ballet karya Nijinsky berjudul The Rite of Spring. Dia juga menambahkan bahwa dalam karya Nijinsky yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1913 tersebut teknik gerak Asia sudah digunakan.

Sinta Obong Versi Thailand Oleh Pichet Klunchun

Dari situ dia kemudian menemukan bahwa “kontemporer” sebenarnya telah terjadi bahkan pada ratusan tahun yang lalu di Asia. Setelah itu baru Pichet mencoba menempatkan dirinya dalam cara berpikir Nijinsky untuk menghasilkan karya kontemporer-lama-nya yang dibawakan dalam pertunjukan tari persembahan Goethe Institut itu.

Pichet Klunchun Koreografer Thailand Membawakan Sinta Obong

Pichet Klunchun Meneliti Koreografer Rusia Vaslav Nijinsky

Pichet Klunchun Penari Koreografer Berprestasi Asal Thailand

Pichet Klunchun is a successful choreographer in Thailand as well as in South East Asia. One of his success stories was when he received “Routes” ECF Princess Margriet Award for Cultural Diversity from European Cultural Foundation in 2008.

In 2012 he received another award from French Minister of Culture for his contribution to the influence of culture in all over the world. In the same year, Goethe Institut named Pichet and two others choreographer, Sophiline Cheam Shapiro and Eko Supriyanto, as three most notable choreographers in South East Asia.

For his goals and achievements Goethe Institut selected Pichet to be one of three choreographers that was involved in the dance project entitled “Fire Fire Fire”. In the project Pichet performed his piece that was presented in Phnom Penh, Bangkok, Jakarta, and Solo.

Like the other two choreographers, Pichet created his choreography by adapting a story from the epic of Ramayana, Sita’s trial by fire. In his choreography he used six dancers, including himself. All of the dancers wore white long lined dresses.

The sense of contemporary in his piece could be found in the entire performance. His new ideas about Sita’s trial by fire could be seen from the start until the end of his performance. It was started when the dancers created a circle. While they danced in circle, a man stood in the middle of it. They were burnt and the man in the middle was crying for help.

Sita's Trial by Fire oleh Pichet Klunchun

The circling dancers moved and created movements which looked like burning men. Their costumes added the flammable effect. Pichet also used grim music in this session. Audiences could hear the sound of talking people and screaming people and at the same time the man in the middle was crying for help.

The arrangement changed in the last minutes of his choreography. The circling dancers moved and made a two lined pose. They played their long lined dresses to make flammable effect. The burning dancer in the middle was moving in front of them. It seemed that they performed a chasing scene, the burning man was chased by the fire.

Sinta Obong Versi Thailand Oleh Pichet Klunchun

The Sita’s trial by fire by Pichet was inspired by the works of Russian choreographer, Vaslav Nijinsky, as it was reported in tanzconnexions blog. He also used a theme of Stravinsky’s piece of music The Rite of Spring.

Pichet Klunchun Koreografer Thailand Membawakan Sinta Obong

Pichet Klunchun Meneliti Koreografer Rusia Vaslav Nijinsky

In his research he found that Nijinsky has used Asian techniques to create The Rite of Spring. Later on, he used what he found in the research to create the new version of Sita’s trial by fire. In another way, instead of trying to be contemporary, Pichet used the old techniques from Nijinsky that has already been contemporary to be contemporary.

Filed Under: Seni dan Pertunjukan Tagged With: koreografer asia, pertunjukan tari kontemporer, tari kontemporer

About Wawan Surajah

Memulai dari berita yang kecil, yang bisa menggelitik ketertarikan orang.

Trackbacks

  1. Sinta Obong Versi Kamboja Karya Sophiline Cheam Shapiro says:
    March 17, 2013 at 19:15

    […] itu menjadi karya pembuka sebelum dua koreografer lainnya dari Thailand dan Indonesia yaitu Pichet Klunchun dan Eko Supriyanto menampilkan karya mereka yang juga terilhami dari epic […]

    Reply
  2. Pentas Tari Kontemporer Fire! Fire! Fire! Satu Cerita Tiga Rasa - CHIC:ID says:
    March 25, 2013 at 11:12

    […] ini melibatkan tiga koreografer kenamaan Asia Tenggara seperti Eko Supriyanto dari Indonesia, Pichet Klunchun dari Thailand, dan Sophiline Cheam Shapiro dari Kamboja. Dan dalam pementasan malam tadi, enam penari perempuan […]

    Reply
  3. Kesetaraan Dalam Gerak Spiral Karya Eko Supriyanto says:
    March 25, 2013 at 13:29

    […] tur ini bersama dua koreografer handal lainnya yaitu Sophiline Cheam Shapiro asal Kamboja dan Pichet Klunchun asal […]

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Produk Terbaik

New Arrival

Kategori

  • Agenda Kota Solo
  • Fashion
  • Film
  • Fotografi
  • Komunikasi
  • Kuliner
  • Lingkungan
  • Model Rumah
  • Musik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Seni dan Pertunjukan
  • Teknologi
  • Tradisi dan Budaya
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Wisata Boyolali
  • Wisata Karanganyar
  • Wisata Klaten
  • Wisata Solo
  • Wisata Sragen
  • Wisata Sukoharjo
  • Wisata Wonogiri

Komunitas Chic:ID

Copyright © 2017 · Magazine Pro Theme on Genesis Framework · WordPress · Log in