Upacara Adat Di Kabupaten Sragen

Upacara Adat di Kabupaten Sragen Jawa Tengah

Bumi Sukowati adalah sebutan bagi Kabupaten Sragen yang merupakan kawasan di tepi timur Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Kawasan dengan luas wilayah 941,55 km² ini cukup berbeda dengan kawasan kabupaten atau kota lain di area Solo Raya menyoal kawasan tujuan wisata.

Kabupaten yang memiliki 20 kecamatan ini bisa dikatakan tidak “sekaya” kawasan lain di Solo Raya dalam hal potensi wisata, baik itu berupa destinasi wisata sejarah, alam, atau juga budaya berupa upacara adat.

Bahkan dalam situs resmi Pemerintahan Kabupaten Sragen, hanya ada tujuh objek wisata di Kabupaten Sragen yang dapat ditemui pengunjung. Meskipun begitu, dari ketujuh objek wisata Kabupaten Sragen itu terdapat satu tujuan wisata Sragen yang juga menjadi tujuan utama wisata Jawa Tengah yaitu Museum Purbakala Sangiran.

Kebanyakan lokasi tujuan wisata di kawasan lain, Solo Raya, juga selalu menawarkan wisata budaya seperti upacara adat yang biasa digelar di lokasi yang sama, terutama objek wisata budaya atau bersejarah. Jadi bisa dikatakan, banyaknya objek wisata yang dimiliki berbanding lurus juga dengan upacara adat yang bisa ditemui.

Untuk upacara adat di Kabupaten Sragen, setidaknya hanya ada beberapa ritual adat di Sragen yang dikenal masyarakat secara luas. Salah satu upacara adat Kabupaten Sragen ini digelar setiap menyambut bulan Suro pada tahun baru dalam kalender Jawa. Ritual adat di Sragen ini biasa digelar di kawasan kompleks makam Pangeran Samudro, atau yang lebih dikenal dengan nama Gunung Kemukus, dengan nama upacara Larap Slambu.

Setiap Tanggal 1 Suro, Upacara Larap Slambu Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus

Ritual adat di Sragen ini sangat terkenal dengan prosesi pencucian dan penggantian kain penutup makamnya. Makam yang dimaksud adalah milik Pangeran Samudro yang dipercaya sebagai salah satu anak raja terakhir Majapahit yang masuk Islam dan dan berguru kepada Sunan Kalijaga. Dalam prosesi adat ini pengunjung yang hadir biasa memperebutkan air cucian kain makam atau juga sesaji yang dihanyutkan ke sungai saat prosesi pencucian digelar.

Selain prosesi adat itu, kini upacara ini juga telah dikemas dalam sebuah kegiatan grebeg budaya yang juga menyajikan berbagai hiburan tradisional seperti kirab gunungan hasil bumi dan juga pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Setiap hari Jum’at Wage di bulan Syaban, Bersih Desa Dusun Ngablak

Tradisi bersih desa yang digelar oleh warga Dusun Ngablak terkenal dengan kegiatan pendamping seperti jathilan, jaran kepang, dan ketoprak yang rutin digelar setelah prosesi kendurian di salah satu pesanggrahan desa.

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *