Tradisi Jodangan Makam Sunan Bayat Di Kabupaten Klaten

Makam Sunan Bayat atau Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran di kawasan Desa Paseban, Bayat, Klaten memiliki arti besar bagi sebagai umat Islam terutama di kawasan Jawa Tengah. Kebesaran nama Sunan yang juga akrab dengan sebutan Kyai Ageng Pandanaran ini dapat dilihat dari beberapa upacara atau kegiatan yang digelar untuk memperingati jasa dan pengorbanannya. Salah satu diantaranya adalah tradisi Jodangan makam Sunan Bayat.

Sosok yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di era Wali Sanga ini dikisahkan rela meninggalkan jabatan dan harta keduniawian sebagai Bupati Semarang dan lebih memilih jalan agama. Termasuk mendirikan pusat agama di kawasan Bayat untuk menyebarkan Islam dari kawasan ini di bawah bimbingan Sunan Kalijaga.

Kebesaran nama tokoh ini disetarakan dengan Wali Sanga yang juga hidup di masa yang sama dengan dirinya. Segala kisah kesaktian dan kebesaran Sunan Bayat telah diceritakan selama ratusan tahun. Dan untuk mengingat jasa besar tokoh Islam ini, warga sekitar kemudian memperingatinya dengan tradisi Jodangan di bulan Ruwah atau biasa juga disebut tradisi Ruwahan.

Kenapa bulan Ruwah (kalender Jawa)? Warga percaya bahwa pada bulan Ruwah tepatnya pada tanggal 27 di hari Jum’at Kliwon, Sunan Bayat diangkat menjadi Sunan Penutup menggantikan Syeh Siti Jenar. Tetapi, ada juga peneliti yang menyebutkan bahwa Jum’at Kliwon adalah saat pencerahan Sunan Bayat yang kebetulan juga menjadi hari wafatnya setelah 25 tahun menyebarkan agama.

Tradisi Jodangan makam Sunan Bayat biasa digelar pada tanggal 27 Ruwah. Jodangan sendiri adalah tradisi kenduri sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Nah, hidangan-hidangan kenduri yang diolah warga itu diarak menuju makam dengan menggunakan jodang. Karena itu tradisi ini, dan di banyak wilayah di Jawa, disebut Jodangan.

Prosesi Jodangan biasa dimulai dari gapura pertama di kompleks pemakaman. Di situ warga yang terdiri dari pedagang dan warga desa, kebanyakan ibu-ibu, berkumpul dan membawa berbagai jenis nasi tumpeng yang akan dipergunakan dalam upacara. Hidangan-hidangan itu nantinya akan dibawa naik menuju makam Sunan Bayat. Naik karena makam Sunan Bayat berada di puncak Gunung Cokro Kembang, Bukit Jabalkat.

Bersama iring-iringan tumpeng tadi terdapat dua warga laki-laki yang menandu jodang berisi tumpeng nasi gurih, inkung ayam, pisang, dan berbagai jenis uba rampe lainnya memimpin peserta kirab menuju Pendapa Broboyekso di atas bukit. Sesajian tadi kemudian akan diarak menaiki 250 anak tangga menuju makam Sunan Bayat.

Iring-iringan reog atau jathilan juga biasa dihadirkan saat tradisi Jodangan makam Sunan Bayat berlangsung. Hanya saja pertunjukan tradisional itu digelar setelah seluruh prosesi Jodangan atau sadranan selesai dilaksanakan.

Rombongan pembawa jodang nantinya akan berhenti di Pendopo Broboyekso untuk menggelar upacara slametan atau syukuran dan juga tahlilan. Setelah itu, para sesepuh akan menuju ke Gedong Intan dimana Sunan Bayat dimakamkan bersanding dengan makam kedua istrinya. Di dalam ruangan tertutup itu para sesepuh dan juru kunci akan menaburkan bunga ke masing-masing makam, makam Sunan Pandanaran dan kedua istrinya.

Dalam prosesi ini terdapat ritual unik dimana peziarah akan meraba dan mencari kembang kanthil yang ikut ditaburkan di atas makam Sunan Pandanaran. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan kembang kanthil maka rejeki mereka selanjutnya akan kemanthil (mengikuti – Jawa).

Selain seluruh prosesi jodangan yang dikemas dalam kegiatan Haul Agung atau peringatan wafat pada tanggal 27 Ruwah, tradisi ini masih menyimpan satu prosesi sakral yaitu pasang langse atau memasang penutup kain makam yang baru. Hanya saja, prosesi sakral ini biasa digelar pada hari yang berbeda sebelum digelarnya kirab jodang.

Prosesi pasang langse berlangsung di dalam Gedong Intan, bangsal makam Sunan Pandanaran, dimana para sesepuh akan mengganti singep atau kain putih penutup makam dengan kain yang baru. Kain penutup lama makam oleh pengelola makam biasanya akan dibagikan kepada mereka yang menginginkannya. Karena ada beberapa warga yang masih percaya bahwa singep makam Sunan memiliki tuah.

Tradisi yang juga akrab disebut sebagai tradisi sadranan Sunan Pandanaran ini terakhir digelar pada 6 Juli 2013, 27 Ruwah. Tanggal 27 Ruwah akan kembali jatuh pada Kamis, 26 Juni 2014!

Sementara untuk prosesi penggantian kain penutup terakhir digelar pada Minggu Kliwon, 21 Ruwah 1946, atau 30 Juni 2013. Jika mengacu pada hari Minggu-nya saja maka prosesi akan berlangsung pada 22 Juni 2014. Jika mengacu pada tanggal 21 Ruwah-nya maka akan jatuh pada 20 Juni 2014. Tapi jika mengacu pada hari Minggu Kliwon-nya maka akan berlangsung pada 15 Juni 2014!

Info nomer telepon penting Kantor Pariwisata Klaten 0272 – 322405!

Selain tradisi Jodangan makam Sunan Bayat, Kabupaten Klaten masih memiliki berbagai kegiatan budaya yang biasa juga digelar menjelang datangnya bulan puasa. Temukan berbagai kekayaan tradisi dan upacara adat di Klaten pada tautan berikut ini!

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>