Tips Menghadiri Perayaan Waisak Di Candi Borobudur

Baliho: WALUBI

Baliho: WALUBI

Pastikan!!!!
1. Pastikan prosesi perayaan Waisak terbuka bagi pengunjung/umum.
2. Pastikan kita mengerti tahap-tahap jalannya prosesi.
3. Pastikan kita tahu tata upacara/tata tertib yang akan berlaku.
4. Pastikan kita siap bertata krama dengan tata upacara/tata tertib yang ada.
5. Pastikan kita mengenakan pakaian yang sopan.
6. Pastikan menjaga perilaku dan cara berbicara selama prosesi.
7. Pastikan kita tahu area mana yang boleh kita masuki.
8. Pastikan kita dahulukan mereka yang sedang beribadah.
9. Pastikan dalam diri kita bahwa kita mengerti benar sedang menghadiri upacara keagamaan.
10. Pastikan kembali prosesi perayaan Waisak terbuka bagi pengunjung/umum.

Perayaan Waisak yang tiap tahunnya dipusatkan di daerah Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah, selalu menjadi tontonan tersendiri bagi banyak warga baik dari dalam dan luar daerah Magelang. Selain ribuan peserta perayaan Waisak yang memadati lokasi prosesi di sekitar Candi Mendut dan pelataran Candi Borobudur terdapat juga ribuan pengunjung serta fotografer dan jurnalis dari berbagai media.

Di antara ribuan orang yang hadir dalam perayaan tersebut adalah kelompok FISIP Fotografi Club atau FFC Universitas Sebelas Maret. Dalam melakukan peliputan kemarin Chic:Id mendapat kesempatan hunting bersama teman-teman dari FFC UNS juga fotografer Joglo Semar, Abdullah Azzam. Nah, setelah berhasil mengumpulkan beberapa data yang diperlukan, maka, dalam kesempatan ini Chic:Id ingin membagi pengalaman juga tips menghadiri perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Prosesi perayaan Tri Suci Waisak dipusatkan pada satu hari di mana pada malamnya bulan purnama akan muncul. Untuk tempat perayaannya ada dua candi yang dijadikan pusat ritual yaitu Candi Mendut dan Candi Borobudur. Sebelum membahas hal lainnya, urutan-urutan prosesi Waisak biasanya berlangsung sama tiap tahunnya. Berikut adalah urutan prosesi Tri Suci Waisak tahun 2012 atau jadwal Tri Suci Waisak tahun 2012 (atau lihat langsung di website WALUBI):

1. 07.00 – 17.00, hari Selasa – Rabu, 1 – 2 Mei 2012, Pengisian Air Berkah ke dalam 10.000 botol.

2. 07.00 – selesai, hari Kamis, 3 Mei 2012, Pindapata

3. 08.00 – 17.00, hari Jum’at, 4 Mei 2012, Pengambilan air dari Umbul Jumprit, Temanggung, untuk disemayakan di Candi Mendut.

4. 09.00 – selesai, hari Sabtu, 5 Mei 2012, Pengambilan Api Abadi dari Mrapen, Grobogan, Purwodadi, untuk kemudian disemayamkan di Candi Mendut.

5. 10.00 – 11.30, hari Minggu, 6 Mei 2012, Detik-Detik Waisak 10:34:49 WIB di pelataran Candi Mendut.

6. 13.00 – 16.00, hari Minggu, 6 Mei 2012, Prosesi dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

7. 16.00 – 18.00, hari Minggu, 6 Mei 2012, Ritual di tenda Majelis.

8. 19.00 – selesai, hari Minggu, 6 Mei 2012, Ritual di panggung utama dilanjutkan Pradaksina serta pelepasan lampion Waisak di pelataran Candi Borobudur.

Inilah susunan acara Waisak di Magelang yang biasanya sama untuk prosesi tiap tahunnya. Salah satu tips menghadiri perayaan Waisak di Candi Borobudur pastinya adalah ketahui jadwal acaranya!

Biksu Melakukan Meditasi Waisak di Halaman Candi Mendut

Melihat jadwal perayaan Waisak di Magelang akan ada dua tempat yang harus anda jadikan prioritas untuk menyaksikan prosesi Waisak, yaitu Candi Mendut dan Candi Borobudur. Yang harus anda ketahui adalah jalan utama dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur hanya ada satu jalur yang melalui Candi Mendut – Jalan Mayor Kusen – Jalan Salaman Mungkid – Candi Pawon – Jalan Balaputradewa – Jalan Badrawati Borobudur – Candi Borobudur.

Jika anda berangkat melalui jalur Muntilan – Jogjakarta kemungkinan anda harus berhenti sebelum komplek Candi Mendut karena jalan yang melintas Candi Mendut akan ditutup sebelum acara Detik-Detik Waisak di mulai sekitar pukul 10 pagi. Yang harus anda lakukan adalah memarkir kendaraan anda dan mengikuti prosesi dari Candi Mendut hingga Candi Borobudur yang berjarak kurang lebih 4 Km dengan berjalan kaki, tentunya akan menghabiskan tenaga anda.

Terdapat jeda waktu sekitar 2 jam dari saat berakhirnya prosesi Detik-Detik Waisak menuju prosesi dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Nah, sedikit tips bagi para pengendara kendaraan bermotor dapat memilih melewati jalur dalam kampung sebelum Candi Mendut untuk menuju Candi Borobudur.

Yang harus anda perhatikan adalah gang di sebelah kanan dari arah Jogja yang terdapat plakat “Muhammadiah Mungkid”, dari gang itu anda akan menemukan masjid di sebelah kanan jalan. Ambil gang di sebelah masjid kemudian ambil arah kiri menyusuri jalan kecil hingga menemui jalan beraspal lalu ambil arah kanan hingga ada gang ke arah kiri. Ikuti jalur itu hingga anda menemukan jalan raya. Dengan cara ini anda dapat menghindari blokade jalan dan menunggu peserta kirab dari Candi Mendut ke Candi Borobudur di depannya.

Borobudur Map id

Peta: Wikipedia

Peta Kota Mungkid Magelang Jalur Prosesi Waisak

Sedikit tips bagi mereka yang ingin dengan nyaman mengabadikan prosesi Waisak adalah mengurus kartu identitas peserta Waisak atau kartu identitas fotografer. Syarat-syarat yang dibutuhkan adalah mengisi data diri peserta juga mengumpulkan foto kopi identitas diri anda ke sekretariat WALUBI.

Kembali pada perayaan Waisak, Detik-Detik Waisak tahun 2012 jatuh di waktu 10:34:49 WIB dan acara perayaannya digelar di pelataran Candi Mendut. Siapkan berbagai perlengkapan seperti topi juga sapu tangan atau handuk kecil serta air minum. Karena selama berlangsungnya upacara terik matahari akan sangat terasa di jam-jam itu. Bagi fotografer, spot paling banyak jadi rebutan nantinya adalah sebelah kanan dan kiri panggung utama di mana para biksu berdoa dan bermeditasi.

Tanpa harus berebut tempat, dengan sedikit bersabar nantinya kerumunan fotografer akan bubar dengan sendirinya karena acara digelar cukup lama dan biasa berlangsung dalam teriknya matahari. Nah, saat mereka yang tadi berebut mulai gerah dan pergi, saat itu anda dapat mengambil gambar tanpa harus bersenggolan apalagi mengganggu prosesi upacara.

Setelah acara ini berakhir para peserta upacara akan beristirahat sejenak begitu pula dengan pengunjung dan juga anda! Deretan toilet dan kamar mandi serta warung makan dan toko kelontong dapat anda temukan di sebelah utara pelataran Candi Mendut. Pada jam 12.30 biasanya para fotografer akan mulai mencari lokasi-lokasi strategis untuk mengambil gambar.

Dari Candi Mendut hingga Candi Borobudur akan ada ratusan fotografer bersiap-siap. Lokasi paling ramai fotografer nantinya adalah di Jembatan Karet yang melintang di atas Sungai Progo. Jika anda mengendari motor, anda dapat memarkirkan kendaraan di loket pembelian tiket masuk Candi Borobudur yang lokasinya berada di kiri jalan setelah pertigaan di depan Jembatan Karet.

Jembatan Karet terletak di antara turunan dan tanjakan jalan menuju Candi Borobudur. Selain itu, nantinya di sepanjang pinggiran jalan akan ada ribuan masyarakat kota Mungkid akan berjubel menonton prosesi dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Nah, hanya di Jembatan Karet ini saja yang bakal sterile dari ribuan masyarakat yang menonton prosesi.

Untuk keperluan yang harus disiapkan saat mengikuti prosesi ini, siapkan saja mantel hujan atau payung untuk berjaga-jaga dari hujan. Pada prosesi tahun 2012 kemarin, tepat sebelum sampai di Candi Borobudur para peserta prosesi dan pengunjung diguyur hujan yang cukup deras, karena kawasan Kota Mungkid dan sekitarnya diguyur hujan deras yang berlangsung lama.

Prosesi Candi Mendut Candi Borobudur Berada di Jembatan Karet

Jika cuaca mendukung, bagi para fotografer tentunya akan ada banyak ide untuk mengambil gambar saat prosesi dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur berakhir di Candi Borobudur. Lokasi panggung utama di pelataran Candi Borobudur serta di dalam Candi Borobudur akan menjadi tempat pengambilan gambar yang bagus. Apalagi di tahun 2012 kemarin, sepanjang hari kawasan Candi Borobudur tetap dibuka untuk wisatawan meskipun prosesi Waisak di dalam area candi dilangsungkan.

Tempat istirahat selanjutnya untuk melepas lelah dan mengisi perut adalah kawasan pertokoan di depan Candi Borobudur. Di sana terdapat banyak sekali tempat makan juga swalayan bagi anda yang ingin mengisi perut atau sekedar minum. Bagi mereka yang mencari Anjungan Tunai Mandiri atau ATM beberapa lokasi di kota Mungkid yang dapat anda datangi adalah di sebelah utara area Candi Mendut dan juga di komplek Pemda Mungkid. Bagi mereka yang membutuhkan koneksi internet, warnet dapat ditemui di kawasan pertokoan di depan Candi Borobudur atau di depan UPJ PLN Mungkid (komplek Pemda Mungkid).

Keindahan Patung Buddha Berlatar Belakang Candi Borobudur

Setelah prosesi kirab, acara perayaan Waisak yang dapat disaksikan adalah acara pada malam harinya yang biasa berlangsung dari jam 19.00 hingga dini hari di dalam area Candi Borobudur. Banyak pemandangan indah dan menakjubkan dapat anda temui di malam hari nanti apalagi mengikuti prosesi perayaan Waisak yang kitmad dari para umat akan menambah suasana sakral dan religious. Bagi fotografer sebaiknya datang lebih awal ke kawasan pelataran Candi Borobudur.

Pemandangan menakjubkan yang dapat diabadikan nantinya adalah panggung utama perayaan Waisak yang terdapat patung besar Buddha di tengahnya dengan background Candi Borobudur yang megah dengan puncaknya yang bermandikan cahaya lampu. Pada tahun 2012, karena hujan yang mengguyur kota Mungkid sebelum acara malam dimulai berlangsung cukup lama, area tempat duduk yang disediakan panitia acara, karpet, menjadi basah dan kurang nyaman untuk diduduki. Karena itu perlengkapan seperti alas duduk anti air akan sangat membantu bagi anda nantinya. Bagi fotografer, membawa tripod atau monopod akan sangat membantu dalam proses pengambilan gambar nantinya.

Ribuan Lilin Ditata Membentuk Tulisan Waisak 2012

Berpindah dari depan panggung utama perayaan di pelataran Candi Borobudur ke area Candi Borobudur. Di area Candi Borobudur (area pasir dan rumput sebelum menaiki candi karena candi sudah ditutup untuk pengunjung pada malam hari) anda akan menemukan ribuan lilin yang berjejer-jejer membentuk kata “Vesak 2556” dan lain-lain.

Daerah ini akan dipenuhi ratusan mungkin ribuan pengunjung yang menunggu berakhirnya acara utama di panggung utama. Di area tadi anda dapat sedikit beristirahat mengumpulkan tenaga untuk mengikuti prosesi berikutnya hingga dini hari nanti. Selama menunggu dan beristirahat ada hal lain yang harus anda ketahui dan ingat dan akan bermanfaat bagi anda pada kegiatan selanjutnya.

Yang harus anda ketahui bahwa setelah acara di panggung utama berakhir maka acara perayaan akan dilanjutkan pada acara Pradaksina di Candi Borobudur. Sesaat sebelum acara Pradaksina berlangsung para pengunjung akan diminta mengosongkan area rumput dan area pasir Candi Borobudur. Pengunjung akan diminta berdiri di area rumput yang berada di area terluar.

Jadi, sembari anda beristirahat menunggu acara selanjutnya, pastikan anda berada di area yang memang diperuntukkan bagi pengunjung dan fotografer. Nantinya anda tidak perlu lagi berebut dan berjubel untuk memperoleh tempat mengambil gambar atau diusir oleh anggota keamanan karena anda sudah berada di tempat yang diperbolehkan dan terbaik pilihan anda.

Prosesi Ritual Pradaksina Waisak 2556 BE Candi Borobudur

Prosesi Pradaksina akan di awali dari berpindahnya para biksu dan umat Buddha dari panggung utama menuju Candi Borobudur. Mereka akan melewati bagian kanan panggung untuk langsung mengitari Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Lokasi di area ini memang lebih gelap daripada lokasi di pelataran candi, akan ada banyak flash digunakan selama prosesi ini berlangsung.

Sedikit saran yang mungkin bermanfaat adalah ambil gambar sebaik mungkin dan juga se-efisien mungkin, saat gambar terbaik sudah anda dapatkan berhenti memotret dan beri waktu bagi mereka yang menjalankan Pradaksina. Bagaimanapun juga ini adalah acara agama yang ditonton, diliput, diabadikan, dan juga diikuti. Dari ujung hingga ujung satu sisi candi yang panjang itu, ratusan mungkin ribuan fotografer mengarahkan lensanya pada mereka yang menjalankan prosesi Pradaksina.

Setelah Pradaksina berakhir acara kembali akan dilanjutkan di area pelataran Candi Borobudur yaitu penyalaan lampion Waisak. Acara ini akan dimulai dari atas panggung utama oleh biksu serta pengurus WALUBI. Mereka akan mengawali juga membimbing umatnya untuk menyalakan lampion Waisak yang jumlahnya ribuan yang juga akan dibagikan pada para umat peserta perayaan Waisak ataupun pengunjung.

Tak perlu merasa harus menyalakan karena dengan menonton saja kita akan dibuat takjub akan keindahannya. Lampion sendiri bagi umat Buddha menyimbulkan penerangan hidup yang akan membawa mereka pada kemakmuran, kesehatan, kesejahteraan, serta rejeki. Beberapa lampion dari atas panggung akan mengawali ribuan lampion Waisak lainnya terbang ke atas langit-langit Candi Borobudur.

Lampion-lampion itu akan disusul oleh ribuan lampion lainnya dan terus akan disusul hingga habis nanti pada dini hari. Ribuan doa dan harapan akan terbang bebeas bersama ribuan lampion Waisak. Tak sedikit dari mereka menangis, tercengang, dan terpana saat menyaksikan momen yang menakjubkan itu. Aka nada ribuan lampion melayang di atas kepala di area Candi Borobudur. Momen yang benar-benar indah dan kitmad, salah satu momen terbaik di Indonesia.

Pelepasan 10.000 Lampion Waisak Momen Terindah Waisak

Saat semua acara telah selesai satu persatu peserta juga pengunjung akan menginggalkan kawasan Candi Borobudur untuk kembali pulang. Bagi mereka yang menaiki kendaraan bermotor tak perlu takut akan sendirian di jalan nantinya, karena akan ada ribuan peserta lainnya bersama-sama meninggalkan Candi Borobudur ke arah Jogjakarta, Magelang, atau Wonosobo.

Yang harus anda perhatikan adalah memastikan kondisi ban kendaraan baik mobil atau motor sebelum mengunjungi acara perayaan Waisak di Candi Borobudur, karena malam waktu pulang dari acara perayaan Waisak di Candi Borobudur kemarin kami banyak sekali menemui kendaraan-kendaraan berhenti karena bocor ban.

Sekian tips menghadiri perayaan Waisak di Candi Borobudur dari kami selama mengunjungi acara perayaan Waisak di Candi Borobudur pada tahun 2012 kemarin. Jika anda memiliki tips- tips menghadiri perayaan Waisak di Candi Borobudur yang lain, jangan sungkan untuk membaginya dengan kami dan teman-teman lain di sini.

Satu hal lagi untuk di bagi adalah acara perayaan Waisak di Candi Borobudur adalah acara perayaan hari besar agama Buddha. Mereka yang hadir di sana bukan hanya pengunjung atau fotografer melainkan umat yang akan merayakan acara perayaan Waisak di Candi Borobudur. Menghormati adalah kata kunci untuk ikut berbagi sedikit kebahagian pada mereka yang merayakan acara perayaan Waisak di Candi Borobudur, karena tak sedikit kritikan sudah di arahkan pada pengunjung serta fotografer yang hadir dalam acara perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi karena kurang mengertinya mereka akan acara-acara yang ada dalam perayaan Waisak di Candi Borobudur, dengan lebih banyak membagi tips menghadiri perayaan Waisak di Candi Borobudur mungkin hal-hal yang tidak diinginkan tersebut dapat diminimalkan.:)

Sponsored Links

Comments

  1. Nando says

    thank you mas sudah sharing ini,, indahnya perayaan Waisak, menjadi daya tarik tersendiri buat pribadi, mudah2an tahun 2013 ini bs kesana melihat dari awal.

  2. nana says

    Niatnya tahun ini pengen kesana mas tapi bingung masalah prosedur dan lain-lainnya.
    ada saran mas?

  3. one little person says

    terima kasih atas segala informasi, tips nya. dan dukungan dr kawan2 fotografer.

    Dalam agama Buddha, selalu di ajarkan untuk berpikir , berbicara, mendengar, bersentuhan, dan melihat hanya yang baik2 saja tanpa kecuali.

    semoga informasi dan segala niat baik saudara wawan yg telah menghormati agar acara Waisak bs tetap brjalan dengan sakral.
    dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

    sampai jumpa di waisak bln dpn..

    • resiki says

      Dear Brother,

      Saya dan suami ingin mengikuti perayaan Vaisak tahun ini, sebagai peserta upacara (ingin terlibat langsung) Bisa minta info apa yang harus dipersiapkan? misalnya warna pakaian, perlengkapan?
      Saya akan tiba di Yogya tgl. 24 sampai 26 Mei.
      Terimakasih infonya.
      Salam Dharma,
      Resiki

      • Wawan Surajah says

        dari yang bisa diperhatikan (jika ingin mengikuti prosesi dari siang hingga malam) perlengkapan pribadi seperti handuk, mantel atau payung, topi, baju ganti atau sekedar air mineral dalam botol, tampak sangat wajib dipersiapkan karena sangat diperlukan. mereka yang terlibat langsung dalam upacara tampak terlihat banyak yang mengenakan pakaian casual namun rapi dan sopan.

  4. ayu says

    Hi,

    Thanks for sharing, im going there this vesakh.

    Mau tnya, kalau datang untuk ceremonial yg malam, waktu yg tepat harus Stand by dari jam berapa ya?

    Thank u

  5. says

    Thanks a lot Mas Wawan..
    Sangat sangat detail bangeet dan pengen bawa anak2 untuk liat prosesi Waisak
    Sahat ini all hotel sekitaran Candi Boro sudah fully booked kalau kami stay di Magelang apa kah terlalu capek ya Mas bolak balik ke Candi ?
    Please advise thank you

    • Wawan Surajah says

      halo mbak wuri, tergantung dari mbak wuri pengen mengikuti prosesi yang mana dulu, karena berbagai prosesi berlangsung dari pagi hingga malam maksud saya tinggal mencocokan kebutuhannya. pastinya di mungkid dan di sekitar candi sudah booked. jika merasa magelang terlalu jauh mungkin bisa dicoba cari tahu penginapan di muntilan mbak karena jarak muntilan-candi jauh lebih dekat dari pada magelang-candi. :)

      • says

        suwun Mas Wawan…
        Kami jadi ke Jogja dan mencoba pengalaman merasakan posesi Vesak tahun ini. Namun karena pagi nya kami trekking ke merapi dulu kami tiba di boro pkl 1300. Apakah masih ok utk lihat separuh acara, Mas Wawan ?
        Oh ya kalau kami parkir kendaraan (krn ditutup) dan memilih jalur gang dari mungkit, apakah memungkinkan dengan berjalan kaki (tidak naik motor)
        Mas Wawan ndak ke sana tahun ini… trimakasih ya sekali lagi utk sharing info yang bermanfaat buat semua ..

        Cheers

        • Wawan Surajah says

          dari jadwal resmi di http://www.walubi.or.id/Waisak2013/rangkaian-acara-waisak-2013.shtml, dicantumkan prosesi arak-arakan dari mendut ke borobudur 13.30– 16.00. kalo jam 1 ya memungkinkan untuk melihat prosesi itu dan setelahnya hingga tengah malam, hanya prosesi yang dimendut yang terlewatkan. jika berjalan kaki sebenarnya ribuan peserta dan juga pengunjung banyak yang ikut dalam rombongan, bahkan beberapa teman saya dulu juga ikut hunting dan berjalan kaki dari mendut ke borobudur. tetapi dulu saya pilih naik motor lewat gang sempit yang saya sebutkan di artikel, agar bisa berada di depan rombongan arak-arakan. btw, jarak untuk jalan kaki juga tidak “jauh sekali” sebenarnya. tetapi lumayan melelahkan mungkin apalagi kalo sebelumnya sudah pemanasan di merapi hehehee
          selamat berpetualang :)

  6. Rizki says

    Hi Mas Wawan,
    Saya coba contact perwakilan WALUBI Yogyakarta untuk meminta kartu identitas peserta Waisak/fotografer, namun mereka tidak tau mengenai hal ini.
    Mohon informasinya mas, kalau mas wawan meminta kartu identitas ini di sekretariat WALUBI mana ya?
    Terima Kasih

    • Wawan Surajah says

      dulu saya ikut rombongan temen-temen FFC FISIP UNS mas rizky, pagi hari mereka baru menngambil kartu di kantor di candi borobudur dan itu pun kartu tanda peserta bukan kartu fotografer…

  7. EKY says

    Halo Mas Wawan, saya berencana tahun ini untuk merayakan waisak di borobudur. untuk kartu peserta apakah diberikan bebas atau hanya diberikan kepada yang KTP nya Buddha saja? sebaiknya diurus dari jem berapa ya? Trims Mas untuk informasinya :)

    • Wawan Surajah says

      nah ini pertanyaan yang paling banyak tapi maaf saya kurang informasi untuk yang penting ini, tahun lalu saya ikut dalam rombongan klub fotografi. di sana ketua rombongan yang menguruskan masalah kartu. setahu saya dia mengambil langsung di kantor panitia di borobudur tapi saya sendiri kurang detil untuk itu. toh, kami pun hanya dapat kartu peserta (bukan fotografer) dan bisa mengikuti prosesi seperti peserta lain yang tidak mengenakan kartu dan juga seperti fotografer yang mengenakan kartu fotografer.

  8. Rian says

    Mas wawan,klw boleh bisa email no HP mas wawan ke threeanggraini@rocketmail.com…sy perlu komunikasi bnyk sm mas wawan,mengenai acara tersebut n tatacara,persayaratan pa ja untuk masuk dan mengikuti acara tersebut.klw g ada halangan acara Th ni,sy beserta temen-temen pingin motret disana…..mohon bantuannya Mas…hee

  9. fatima says

    Kak saya mau tanya soal biaya. Berarti hanya membsyar tiket masuk candi borobudur saja ya? Tidak ada biaya tambahan seperti paket tour / apa gt?

    • Wawan Surajah says

      setahu aku ya hanya tiket masuk itu dan bisa digunakan berulang kali (jangan sampai hilang) karena durasi prosesi yang berlangsung dari pagi hingga malam buta..

  10. Dita says

    hai mas wawan boleh minta no hp atau email. saya memerlukan informasi banyak mengenai perayaan waisak tahun ini, soalnya saya pengen dateng ke acara itu. kalo boleh kirim no hp nya ke ayank_deetha@yahoo.com. makasih mas…

  11. anna says

    Terima kasih informasinya. Rencananya tahun ini saya ingin mengikuti ceremonial yang malam hari.

    mau tanya,, untuk jalur alternatif yang lewat gang itu, apakah bisa dilalui mobil? dan apakah tersedia parkir mobil di sekitar Borobudurnya? mohon pencerahannya… :D

    • Wawan Surajah says

      banyak parkir mobil yang dibuka warga sekitar karena akses jalan di kawasan candi mendut ditutup saat berlangsungnya prosesi pagi. untuk jalur gang tidak mungkin dilalui mobil karena hanya gang tikus yang muat dua motor saja :)

  12. Nathania Hapsari says

    Pas sekali minggu depan saya juga akan ke borobudur utk melihat perayaan waisak ini.
    Mau tanya mas, tentang kartu identitas peserta itu, apakah wajib?
    Kalau saya hanya pengunjung biasa, bukan yg mau mengikuti ibadahnya,
    apa disebut peserta juga dan punya kartu identitas peserta?
    Terima kasih banyak sebelumnya :)

    • Wawan Surajah says

      tidak wajib kok, karena pada tahun kemarin candi borobudur tetap dibuka untuk umum selama berlangsungnya prosesi. berarti pengunjung biasa hanya cukup membeli tiket masuk candi borobudur :)

  13. Gita says

    Dear Mas Wawan,

    Hi Mas Wawan, salam kenal. Mas, untuk ID Card-nya bukan diambil di Candi Mendut ya? Saya dengar diambilnya di candi Mendut bukan Borobudur (mohon koreksi yaa). Saya juga sudah coba hubungi Walubi Jakarta tapi belum ada balasannya nih. T_T
    Saya sendiri bukan umat budha, tapi denger2 katanya bisa untuk mendapatkan ID Card peserta agar lebih leluasa “kata teman” tapi lagi2 dia juga diurusi oleh Ketua rombongannya jadi tidak tahu menahu tentang hal ini.

    • Wawan Surajah says

      nah ini pertanyaan yang sama yang masih juga saya carikan jawaban, detil ini terlewatkan dalam artikel karena saat itu “juga” diuruskan oleh ketua rombongan… jika yang dimaksud adalah leluasa memotret saya kira tidak. banyak kegiatan sebenarnya yang bisa diikuti tanpa id (di luar borobudur) bahkan di dalam borobudur sendiri (tetapi harus membeli tiket masuk jika tanpa id tentunya). banyak juga kok penonton yang pada akhirnya ikut terlibat dalam prosesi seperti prosesi pradaksina misalnya meskipun mereka tidak mengenakan id, tentunya masih dalam koridor sopan dan santun :)

  14. wina says

    Kebetulan mggu depan saya & teman2 akan berangkat ke Jogja untuk menyaksikan perayaan Waisak. Kami akan menginap di suatu rumah di dekat Candi Borobudur. Nah, kami berencana buat nyaksiin perayaan, khususnya di Borobudur, untuk pelepasan lampion dan upacara sebelumnya. Menurut mas wawan, sebaiknya kami stand by di candi borobudur dari jam berapa? Dan waktu itu apakah ada banyak pengunjung tanpa i-d card khusus yang diperbolehkan masuk ke kompleks borobudur? Terima kasih atas sharing2 pengalaman dan info nya.

    • Wawan Surajah says

      sebenarnya tanpa id peserta dll tetep bisa ngikutin kegiatan kok asal pegang tiket masuk candi borobudur (untuk kegiatan di dalam candi borobudur pagi hingga malam, tiket biasanya berlaku sebagai tiket terusan untuk hari itu *sebaiknya ditanyakan lagi dulu). untuk kegiatan malam bisa hadir jam 7 malam, tetapi jika ingin fokus di pradaksina hingga lampion yang dilaksanakan malam (menjelang tengah malam) datang sebelum jam 9 mungkin bisa lebih dapat menghemat tenaga :)
      coba cek di sini untuk lebih mudah memperkirakan waktu dan membuat jadwal pribadi http://www.walubi.or.id/Waisak2013/rangkaian-acara-waisak-2013.shtml, detik2 waisak pukul 11.24.39 WIB di candi mendut :)

  15. shelma says

    Halo, Mas Wawan! Senang sekali bisa nyasar di lama ini. Sangat informatif.

    Saya sudah memastikan akan datang pada perayaan Waisak di Borobudur. Saya dapat penginapan di dekat Borobudur. Saya ingin mengikuti prosesi dari Candi Mendut, tapi jadwal saya sampai penginapan sekitar pkl 9 pagi. Apakah masih sempat utk ngejar prosesi di Mendut? Bgmn cara mencapai Candi Mendut dari Borobudur, Mas? Terima kasih :)

    • Wawan Surajah says

      buat jadwal saja dari jam 9 itu, detik-detik waisak di candi mendut pukul 11.24.39 WIB tahun ini. dimana penginapan yang dipakai, tinggal bikin perkiraan jarak dan waktu. dari prosesi di mendut hingga kirab rombongan menuju candi borobudur terdapat jenjang waktu yang dapat digunakan untuk memindah kendaraan dari area mendut menuju borobudur. dengan begitu meskipun ikut berjalan bersama rombongan, tentunya g perlu capek2 jalan kembali kan menuju mendut. :)
      cek jadwal di sini coba http://www.walubi.or.id/Waisak2013/rangkaian-acara-waisak-2013.shtml

  16. Indah nuria says

    Mas …makasih sharingnya….boleh tau persisnya jam berapanlampion dilepas dan apakah jalan kembali ke jogja akan macet mas jika kita mengejar ke airport malam itu juga? Terima kasih

    • Wawan Surajah says

      kira-kira jam 10 atau di atas jam 10, maaf agak lupa tapi seingat saya pulang jam 23.30 belum selesai pelepasan lampionnya… jalanan sepi lancar hingga jogja dari jam itu :)

  17. eek says

    mohon gan kalo jepret2 jangan asal jepret aja jaga tolerannya gan,,, bukan nuduh tapi ingetin aja ini bukan acara konser ini acara keagamaan yang butuh ketenangan

  18. eek says

    http://othervisions.wordpress.com/2013/05/24/ketika-waisak-jadi-obyek-wisata/

    Ketika Waisak Jadi Obyek Wisata
    Posted on May 24, 2013

    80 Votes

    Lagi, prosesi tahunan tri suci Waisak 2557/2013 digelar di Candi Mendut Borobudur 24-25 Mei. Itu berarti bahwa wilayah di sekitar Mendut-Borobudur bakal dipenuhi orang. Tak hanya umat Buddhis, tapi juga para maniak fotografer yang mengalir mirip bah, wisatawan lokal maupun luar, serta masyarakat lokal.

    _MG_4821_1_1

    Di negara yang penganut Buddha-nya banyak misalnya, Waisak diperingati dengan sakral, penuh hormat, dan hening. Hal semacam ini sulit ditemui pada peringatan Waisak di Mendut-Borobudur. Waisak di sini lebih mirip atraksi wisata, hiburan buat masyarakat awam. Ada pasar malam yang digelar di sepanjang bagian luar Candi Borobudur hingga Mendut yang dipenuhi ribuan orang. Ada dengking, pekik kebisingan dari suara motor, orang berbincang, yang kerap mengganggu jalannya pujabakti yang digelar di pelataran Candi Mendut di malam hari. Sepintas, sungguh mirip sekaten Jogja. Bukan ritual agama.

    Di negeri ini, perayaan agama minoritas kerap dipandang sebelah mata. Bukannya dihormati pelaksanaannya, malah dijadikan atraksi wisata. Para penikmat ritual, entah wisatawan atau juru potret, menganggap sudah jamak memotret seenak udelnya, karena itu bagian dari atraksi wisata. Tak peduli saat itu digelar pujabakti, pembacaan sutra, atau meditasi.

    Saya jadi membayangkan andai pada pelaksanaan shalat Ied, lalu ada kaki-kaki yang masuk di sela-sela shaft, demi menjepret sang Imam atau makmum, apa yang terjadi? Pastilah jamaah marah, memaki, malah bisa jadi si tukang foto diusir, ditangkap, atau dikurung. Itu sebabnya para fotografer shalat jauh sebelumnya sudah mengatur posisi agar tak mengganggu kekhusyukan shalat. Anehnya, hal ini tak terjadi pada Waisak Borobudur.

    Para banthe yang khusuk berdoa, membaca sutra pun, jadi obyek eksotisme karya foto. Atau arak-arakan pawai harus tersendat karena berjubelnya penonton yang beringas seolah hendak memakan para banthe atau peserta ritual yang hendak memasuki kawasan candi. Mereka atraksi. Mereka menarik untuk dipotret. Tak ubahnya penari reog atau dance festival.

    Harus diakui, kini prosesi Waisak di Borobudur memang menjelma menjadi tontonan, suguhan yang menghibur masyarakat sekitar. Nilai magis, kesucian ritual, telah berbaur dengan komersialisasi wisata. Mau tak mau, karena prosesi dilaksanakan di tempat wisata yang mendunia, Candi Borobudur.

    Saya jadi berangan-angan, semacam utopis, andai di saat perayaan ritual agama seperti Waisak, Borobudur ditutup untuk umum dan semata digunakan untuk ritual agama bagi umat Buddha. Mungkinkah?

    Sudah banyak hal tidak menyenangkan yang saya saksikan berkaitan dengan ritual Waisak ini. Tahun lalu saya ada di antara umat Buddhis yang berada di dalam vihara depan Candi Mendut. Belum tengah malam saat itu. Banyak awam diijinkan masuk awalnya. Bukannya sekedar melihat-lihat, mereka dengan usilnya bermain dengan segala benda yang mereka anggap aneh. “Apa ini? Hahaha.. Wah, ini sih patung nggak jelas, Huhuhu..” Mereka memainkan semacam kentongan, menertawakan orang yang sembahyang sambil menundukkan kepala dan menyilangkan tangan, dan sebagainya. Seolah itu perbuatan menggelikan, karena memang di luar konteks pemahaman agama mereka. Ini sungguh mengesalkan. Di mana letak toleransi.

    Andai ada orang nyelonong masuk ke masjid, lalu dengan main-main berdiri di mimbar masjid saat bukan waktu shalat, atau menabuh bedug sesuka hati, apa ada yang tidak marah? Pastilah si penabuh bedug itu digampar dan dikuliahi sampai berbuih. Tapi bersikap toleran terhadap pemeluk agama liyan, sungguh sulit.

    Ini baru soal sikap. Tentang nilai komersil, bisa saya gambarkan sebagai berikut. Seorang kawan berkabar ditawari wisata Borobudur, termasuk mengikuti prosesi Waisak dengan membayar Rp900.000. Kawan-kawan manca juga mengakui hal sama, 70 dolar tiket untuk menonton prosesi Waisak di Borobudur dari awal hingga akhir. Entah agen perjalanan mana yang mengadakan. Kawan-kawan fotografer dari media entahlah beramai-ramai mendaftar ke panitia, demi memperoleh tanda pengenal yang membebaskan mereka dari tiket masuk Borobudur. Dan beragam cara lainnya.

    Komersialisasi juga sudah dinikmati masyarakat sekitar. Tahun kemarin saya terkaget-kaget karena hampir semua rumah penduduk di sekitar Mendut sudah disulap menjadi penginapan dadakan dengan tarif antara Rp50.00-Rp250.000 semalam. Tergantung mau tidur di kamar atau menyewa satu rumah penuh. Itu pun mau tidur di atas tikar, di atas ranjang, atau bergelung karpet. Ana rega ana rupa. Semakin mahal tarifnya semakin maknyus fasilitasnya. Hehehe..

    Wah, ingatan saya jadi melayang di akhir 1990-an, saat mengikuti prosesi Waisak yang nyaris tanpa gangguan dengan kawan-kawan Buddhis Jepang. Kami masuk candi dengan tenang, setelah mengisi daftar berasal dari mana di depan Candi Mendut, lalu beramai-ramai ikut pawai. Nyaris tak ada fotografer ganas, semua tampak sopan dan meminta ijin dulu jika hendak memotret.

    Tahun berikutnya kembali saya datang saat Waisak, berencana menginap di vihara depan Candi Mendut. Malam itu saya berbaur dengan para Buddhis dari penjuru nusantara, bahkan tidur di lantai paling bawah bangunan utama. Banyak pengetahuan yang saya dapatkan dari mereka. Mereka berasal dari Borneo, Lombok, Bali, bahkan Sulawesi dan Sumatra. Umumnya datang dengan kemauan sendiri, perorangan, dengan dana yang sengaja diada-adakan. Bahkan, ada yang sudah menabung 2-3 tahun demi dapat mengikuti prosesi Waisak di Borobudur. Bagi mereka, datang ke Borobudur mirip ziarah. Jadi, apa salahnya menghormati kawan-kawan peziarah ini dengan bersikap lebih santun, dengan menjaga kesakralan prosesi dan tak menjadikan mereka sebagai obyek semata?

    Saya tahu bahwa Borobudur adalah obyek wisata yang mendunia, sama terkenalnya dengan Angkor Watt, atau Ayutthaya. Apalagi ketiganya sudah ditetapkan sebagai world heritage oleh UNESCO, yang berarti menambah nilai sebagai warisan budaya di mata dunia. Namun ada hal yang perlu dicermati dengan penetapan world heritage ini. Masuk tempat-tempat world heritage jadi tidak gratis, terkadang lumayan mahal. Orang asing yang masuk ke kompleks Angkor Watt dikenai bea 20 dolar per hari. Tapi ‘nyucuk’ kata orang Jawa, karena kompleks candinya amat sangat luas (tapi tiket masuk Borobudur yang akan dinaikkan menjadi Rp 200.000 dianggap turis asing keterlaluan, Borobudur kan cuma ‘secuplik’, nggak ada sepersepuluhnya dari Angkor Watt). Lebih istimewa lagi, di Angkor, warga lokal alias Kamboja bebas bea masuk. Tiket ini berlaku hanya buat orang asing. Demikian pula di Ayutthata.

    Saya ingat beberapa waktu lalu orang Hindu Bali menolak anugerah ‘world heritage’ dari UNESCO bagi Pura Besakih. Alasannya, mereka tak ingin nantinya umat Hindu yang melakukan ritual di pura itu harus membayar. Cukuplah para wisatawan yang membayar, bukan orang lokal. Sungguh ini tindakan yang benar dan terpuji.

    Di jaman ini komersialisasi di bidang agama memang tak dapat dielakkan. Para da’i di teve menerima jutaan rupiah sekali ngecap, da’i yang diundang ke ceramah-ceramah akbar pun mengalami hal sama. Jadi, tak ada yang salah jika Waisak jadi obyek wisata. Mungkin nanti perayaan natal di Gereja Jago, atau Shalat Ied di masjid besar juga dapat jadi obyek wisata. Permasalahnnya mungkin, di negeri mayoritas agama A, maka prosesi agama A itu sudah biasa, tak bakalan laku dijual karena milik mayoritas. Tapi prosesi agama B, yang hanya segelintir umatnya, sah-sah saja dikomersialisasi. Tak bakalan ada yang protes. Kalau protes pun, yang mencicit hanya satu dua mulut, tak ada artinya dibanding jutaan mulut. Tapi hendaknya dikomersilkan pun masih menghormati hak-hak umat beragama yang bersangkutan. Ah, ini hanya renungan.

    Apapun itu, selamat merayakan Waisak bagi umat Buddha

  19. Yaya says

    Pada awalnya saya tidak sengaja menemukan gambar ribuan lampion di google,saya sempat tercengang dan segera mencari informasi sebanyak mungkin,akhirnya saya mendapatkan apa yg saya mau tahu.
    Pelepasan Lampion,sebagai Klimaks dari acara keagamaan,dimana ribuan orang melakukan ritual,doa dan lain sebagainya.
    Bagi saya sendiri,seluruh rangkaian acara waisak termasuk pelepasan Lampion adalah sebuah kegiatan Religi yg sangat Prestigious,penuh keindahan,kehidmatan yg dalam kacamata saya sbg manusia beragama itu sangat menabjubkan.
    Dengan segala kerendahan hati,tahun ini,Insya Allah kalau Allah mengijinkan, saya dan anak akan kembali mengikuti gelar acara waisak,sekali lagi,tidak bermaksud untuk mengganggu sembahyang,tapi menuntun instuisi putri saya akan sebuah penghormatan,religi,keindahan,dan penghargaan.
    Silahkan pemerintah yg mengatur ketertiban dari upacara keagamaan agar berjalan dengan baik,agar semua pihak dapat melaksanakan dan mengikuti sembahyang dgn baik.Terima kasih mas sudah share informasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>