Sayang Ada Orang Lain Memang Sayang Untuk Dilewatkan

Sayang Ada Orang Lain oleh Komunitas Bersama Surakarta

Rabu malam (20/03/13), gedung pertunjukan Teater Arena kembali dibanjiri ratusan penonton. Mereka yang memenuhi gedung pertunjukan Taman Budaya Jawa Tengah ini tampak tidak ingin melewatkan pertunjukan teater yang dibawakan oleh Komunitas Bersama, komunitas yang terdiri dari anggota kelompok-kelompok teater Kota Solo.

Berlangsung kurang lebih satu jam, kelompok ini mementaskan naskah drama karya Utuy Tatang Sontani berjudul Sayang Ada Orang Lain. Dan sajian istimewa memang dibawakan oleh Komunitas Bersama malam tadi melalui tokoh-tokoh dalam Sayang Ada Orang Lain termasuk tokoh Suminta yang diperankan oleh Yogi Swara.

Pertunjukan teater Sayang Ada Orang Lain yang disutradarai oleh Orville ini adalah pertunjukan drama realis. Setting lokasi yang digunakan adalah sebuah rumah dengan ruang tamu dan ruang makan sekaligus dapur. Dua orang yang tinggal di rumah itu adalah pasangan suami istri Suminta dan Mini.

Pertunjukan ini dibuka dengan kehadiran banyak orang ke rumah Suminta. Mereka yang datang memiliki keperluan yang berbeda-beda dan datang dari kalangan yang berbeda pula. Kedatangan orang-orang itu secara bergantian juga memberikan gambaran tentang kondisi kehidupan pasangan suami istri ini.

Dari Hamid, tetangga dengan pakaian rapi, penonton tahu bagaimana besaran gaji Suminta tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehingga memaksa istrinya ikut bekerja. Dari penjual minyak dan daging penonton tahu bagaimana pasangan ini menutupi kebutuhan hidup dengan berhutang. Dari kedatangan Sum, penjual perhiasan, penonton tahu bahwa Mini tidak memiliki cukup uang untuk membeli kebutuhan lain di luar kebutuhan pangan.

Sayang Ada Orang Lain karya Utuy Tatang Sontani

Suminta memang hidup dalam kekurangan bersama istrinya. Namun hal lain tidak disangkanya setelah seorang lagi, Haji salim, datang menemuinya dan membeberkan hal negatif tentang Mini yang berhubungan dengan Hamid dan seorang lagi rekannya.

Ujung dari kepenatan hati dan pikiran Suminta itu lah yang kemudian mencuri perhatian seluruh penonton. Mini yang pulang dari berpergiannya mendapati Suminta marah besar dan memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang dilakukannya.

Sayang Ada Orang Lain di Taman Budaya Surakarta

Tidak hanya membentak, Suminta juga membanting benda dihadapannya dan menggunakan gestur-gestur tubuh yang menghakimi dan menghukum Mini meskipun semua yang dibeberkan Haji Salim belum terbukti.

Dalamnya emosi yang diperlihatkan karakter Suminta ternyata juga dirasakan penonton yang terdiam selama adegan emosional tadi. Hal sama juga diungkap oleh Harris, salah seorang penonton yang ditemui saat meninggalkan gedung pertunjukan, “Sampe gak bisa ngomong aku lihat adegannya tadi. Emosinya dapet banget.”

Pentas Komunitas Bersama Sayang Ada Orang Lain

Naskah drama Sayang Ada Orang Lain memang menawarkan nilai-nilai moral yang kental melalui kisah kehidupan pasangan suami istri Suminta dan Mini. Melalui kisah mereka penonton disuguhi pandangan tentang bagaimana mereka yang hidup dalam kemiskinan tergencet di antara nilai-nilai moral, ekonomi, dan keagamaan. Mereka seperti menjadi yang terhakimi dan terhukum oleh orang lain yang hidup di luar keluarga mereka.

Mereka yang merasa lebih mampu secara ekonomi atau mereka yang merasa lebih tidak berdosa dan memahami agama dapat dengan mudah mencampuri urusan orang lain bahkan dalam urusan rumah tangga.

Pentas Teater Naskah Sayang Ada Orang Lain

Pentas Sayang Ada Orang Lain Teater Arena

Komunitas Bersama Pentas Sayang Ada Orang Lain

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>