Pentas Jas Merah Munculkan Kembali Gajah Mada Hingga Soekarno Juga Alay Hingga Koruptor

Sosok ini muncul terakhir dari lima sekawan yang menggambarkan kaum muda Indonesia saat ini. Sosoknya mirip dengan orang-orang yang sering dicecar dalam layar kaca. Muda, kemayu, pakaian serba warna dan ketat mirip perempuan, gadget dari kamera, tablet, hingga laptop dan smartphone menempel di tubuh dan namanya adalah Komer. Ada juga empat kawan lainnya yaitu Patty, si apatis yang lantang, Kor yang kaya raya dari hasil korupsi cetak kitab suci, Marle, si pemalas, juga Dea yang paling idealis.

Lima sekawan ini dimunculkan sebagai gambaran mental penerus bangsa Indonesia saat ini. Mereka masing-masing mewakili sifat-sifat yang tanpa disadari memecah-belah meski hidup berdampingan. Yang tidak mereka sadari adalah sifat-sifat mereka itu pula yang kemudian menghancurkan mental penerus bangsa. Jika sudah seperti ini lalu siapa yang mengingatkan mereka?

Sepertinya mental penerus bangsa ini dilihat sudah sebegitu kronisnya hingga yang harus mengingatkan mereka adalah sosok-sosok besar yang merintis berdirinya Indonesia. Keluarlah empat sosok dari dimensi berbeda menggembleng pemuda-pemudi itu. Mereka adalah Soekarno, Kartini, Martha Christina Tiahahu, hingga Gajah Mada.

Menguatkan penampilan karakter di atas panggung, dari sisi artistik kelompok ini memunculkan latar belakang papan-papan bergambar. Dari gedung parlemen, Monas, Borobudur, hingga pemukiman kumuh memenuhi bagian belakang panggung. Papan-papan ini pula yang digunakan untuk menutup panggung belakang yang lebih tinggi, yang digunakan untuk memainkan wayang-wayang yang beradegan perang.

Tidak hanya sampai di situ, kelompok ini kemudian memunculkan sosok perempuan dengan kostum merah putih yang tercabik-cabik merangkak kesakitan keluar dari belakang gedung parlemen yang dijadikan latar. Dia adalah gambaran dari Nusantara ini yang sakit dan renta akibat dari tergerusnya mental penerus bangsa. Dengan susah payah Ibu merangkak hingga kemudian lima sosok hitam dengan wajah suram menyerangnya, menyergapnya, dan mencabik-cabik tubuhnya.

Keseluruhan sosok di atas adalah karakter dalam pementasan naskah Jas Merah karya dan sutradara Rudolf Puspa yang berlangsung semalam (26/12/2012) di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Pentas yang mengangkat tema nasionalisme ini adalah bagian dari pentas keliling Teater Keliling Jakarta di Pulau Jawa dan Bali. Solo menjadi kota pertama dalam tur keliling pentas Jas Merah ini. Secara berturut-turut, lakon ini kemudian akan dibawakan di Jogja (hari ini), Surabaya, Gresik, Banyuwangi, kemudian Bali pada 2 Januari 2013 dan Jombang pada 4 Januari 2013.

Secara keseluruhan pentas Jas Merah ini mengemukakan bagaimana generasi saat ini harus lebih sadar dengan keutuhan dan perkembangan bangsa serta menghargai apa yang sudah diperjuangkan oleh para perintis negeri ini. Dari sisi penonton berbagai tanggapan berbeda diberikan mengenai pertunjukan teater modern ini. Harris salah satunya, dari sisi pertunjukan dia masih kurang dapat merasakan penampilan seimbang dari para pemainnya tetapi dari sisi dialog dia mendapatkan kepuasan tersendiri. “Akhirnya ada juga pentas teater yang ga medok Bahasa Indonesianya di sini,” terang Harris seusai pertunjukan sembari tertawa kecil.

Sponsored Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>