Bagaimana Rasanya? Menyaksikan Prosesi Dan Berebut Gunungan Sekaten

Tradisi ini sudah berlangsung dari satu era raja dan diteruskan oleh raja-raja berikutnya. Lebih dari itu, tradisi ini berlangsung dari satu kerajaan hingga era kerajaan lainnya yang berkuasa. Bahkan, hingga saat ini kita masih bisa menyaksikan atau ikut serta dalam tradisi yang sudah berumur ratusan tahun.

Tradisi Grebeg Mulud sebagai selamatan perayaan Sekaten atau Maulid Nabi adalah tradisi yang masih sakral dan dipercaya membawa berkah bagi sebagian warga di sekitar Kota Solo. Perayaan yang berlangsung tiap tanggal 12 Rabiulawal ini sudah terekam dalam berbagai jenis media dan tersebar hingga berbagai pelosok negeri bahkan luar negeri dan jutaan mata menjadi saksinya.

Salah satu momen yang paling sering bahkan wajib ditangkap dan diberitakan adalah saat berebut Gunungan Sekaten. Yah, momen ini adalah momen yang sering kita jumpai saat menyaksikan berita melalui layar kaca televisi. Di sana kita menyaksikan bagaimana ratusan dari ribuan manusia yan ghadir dalam perayaan ini berdesak-desakan berebut gunungan yang dianggap sebagai berkah yang akan mendatangkan berkah, tentunya, bagi yang berhasil mendapatkannya.

Satu hal yang kadang terlintas dalam benak saat melihat peristiwa seperti ini, bagaimana rasanya jika itu anda yang berada dalam kerumunan manusia itu? Bagaimana rasanya ikut berdesakan dan bahkan berebut Gunungan Sekaten atau bagaimana rasanya memperebutkan sesaji yang sebenarnya bisa kita beli dengan murah di pasar tanpa harus bergulat dalam kerumunan massa yang tampak begitu bernafsu.

Yah, dan dalam artikel ini saya hanya akan membagi bagaimana rasanya berada di tengah kerumunan warga yang berebut Gunungan Sekaten ini.

Gunungan dalam tradisi grebeg yang digelar Keraton Kasunan Surakarta terdapat dua macam, yaitu gunungan laki-laki dan gunungan perempuan. Yang membedakan dari kedua gunungan ini selain bentuk juga isi sesaji yang ada di dalamnya. Kedua jenis gunungan ini bersama sesaji yang lain diarak dari dalam Keraton Kasunan Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta untuk didoakan juga dibagikan pada warga yang hadir.

Saya yang baru pertama kali hadir dalam perayaan ini memang hanya berencana untuk mengabadikan prosesi yang berlangsung dari tengah-tengah kerumunan massa. Dan ternyata banyak juga yang ikut dalam kerumunan hanya untuk sekedar menyaksikan prosesi dan mengabadikannya dalam jepretan foto atau rekaman video, termasuk beberapa wisatawan luar negeri yang ikut berdesak-desakan.

Dimulai dari pukul 09.30 halaman masjid tampak ramai pengunjung dan pedangan. Kebanyakan dari pengunjung berteduh dari panasnya sengatan matahari. Di dalam masjid jumlah warga jauh lebih banyak lagi mendengarkan pengajian sembari menunggu datangnya tontonan utama.

Lewat beberapa saat setelah pukul 10.00 warga dari luar terus saja berdatangan. Halaman Masjid yang agung jadi tampak kecil dengan banyaknya warga yang hadir. Sebagian dari massa ini mulai berkonsentrasi berdiri di depan serambi masjid. Tidak mengagetkan lokasi ini jadi yang pertama dipadati karena gunungan yang akan diperebutkan terlebih dahulu ditata di serambi ini untuk didoakan terlebih dahulu oleh Tapsiranom.

Mendekati pukul 10.30 jumlah massa yang berkumpul di depan serambi masjid makin bertambah dan makin tidak teratur sementara petugas keamanan masih sibuk menjaga rombongan abdi dalem yang mengusung gunungan dari keraton ke masjid. Di saat ini pula menjaga pijakan kaki pun mulai terasa berat karena aksi dorong pengunjung di barisan belakang. Pantas saja karena semua ingin melihat jelas dan mendapat gunungan. Meskipun gunungan belum juga hadir.

Tak lama menunggu rombongan pembawa gunungan tampak mendekati kompleks masjid. Personil keamanan untuk membuat pagar betis manusia ditambah begitu juga rasa ketidak nyamanan berada dalam kerumunan massa ini.

Yang cukup mengherankan, dalam kondisi seperti ini banyak juga anak-anak bahkan balita hingga nenek atau kakek dapat anda temui. Padahal tanpa lelah petugas keamanan berkali-kali mengingatkan mereka untuk keluar dari kerumunan. Yang ditakutkan mereka yang tidak kuat akan jatuh atau terinjak-injak saat warga mulai berebut. Termasuk mengingatkan pengunjung dari bahaya si tangan jahil copet.

Warga semakin tak sabar dan makin berdesak-desakan begitu gunungan dibawa masuk ke kompleks Masjid Agung. Dari belakang pengunjung mendorong yang didepan untuk maju. Dari depan petugas mendorong massa untuk mundur memberi ruang gerak para pembawa gunungan. Ke depan ke belakang. Terayun kerumunan. Terdorong dan terhimpit. Bahkan nyaris terantuk tandu yang digunakan untuk mengusung sesaji. Masih berpikir untuk berebut? Berdiri dalam kerumunan sambil memegang kamera untuk mengabadikan momen ini pun susah.

Di saat seperti ini kita hanya bisa mengikuti arus dorongan yang lebih kuat. Massa dari belakang atau petugas keamanan. Jika anda ingin mempertahankan posisi depan maka berpegang saja pada tubuh anggota keamanan yang membuat pagar betis.

Suasana akan makin kacau saat seluruh sesaji gunungan masuk dalam serambi masjid dan Tapsiranom mulai membacakan doa. Saat ini pertanda gunungan segera boleh diperebutkan. Dorongan akan sangat terasa kencang dari arah belakang karena mereka yang berdiri di belakang juga ingin mendapatkan bagian tentunya.

Yang membuat kondisi tidak dapat diperhitungkan adalah kapan perebutan gunungan dimulai. Kadang sebelum selesai, kadang juga pas saat selesai. Yang jelas anda tetap harus menjaga pijakan kaki anda sementara badan anda terhimpit ratusan badan lainnya.

Begitu saja tiba-tiba, YAP! Entah siapa yang memulai atau memberi aba-aba. Perebutan mulai berlangsung, semua tertuju pada satu arah dimana gunungan diletakan. Ada yang mengambil untuk kebutuhan sendiri namun ada juga yang tak lupa melempar beberapa sesaji ke arah kumpulan massa yang ada dibelakang.

Suasana riuh dan ramai ini masih berlangsung bahkan setelah sesaji gunungan sudah habis. Mereka yang belum mendapatkan apa-apa tak segan merebut milik orang lain jika mereka tidak terlalu awas.

Mengeluarkan alat usungan atau tandu dari dalam masjid pun bisa jadi hal berbahaya bagi pengunjung yang masih berkerumun. Tandu yang terbuat dari kayu keras itu tidak akan dibawa dengan cara halus. Badan bisa jadi taruhan. Belum lagi aksi beberapa petugas keamanan berpakaian serba hitam yang kadang kelewat batas. Beberapa dari mereka kadang tak segan menggunakan tangan, siku, atau kaki mereka hanya untuk membuat pengunjung menepi.

Yang menjadikan Grebeg Mulud tahun ini semakin berat adalah hujan yang rutin turun setiap siang hari. Dalam perayaan kemarin ribuan warga membubarkan diri tepat sesaat sebelum adzan Dzuhur dikumandangkan. Sesaat setelah itu hujan mulai turun. Tak tanggung-tanggung hujan baru reda menjelang Maghrib di Kota Solo. Jalanan sekitar Alun-Alun Utara macet penuh dengan kendaraan dan pejalan kaki.

Susahnya mengambil momen perayaan yang hanya dilangsungkan sekali dalam setahun ini. Ini saja baru memotret, bayangkan jika benar-benar ikut berebut Gunungan Sekaten. Tertarik mencoba tahun depan?

Sponsored Links

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>